Skip to main content

SECANGKIR TEH



Pandanganku tertuju pada istana terbuat dari emas, tapi aneh sekali istananya hanya atap dan tiang penyangga tanpa ada dindingnya. Dengan indahnya panorama taman yang terhiasi pesona warna dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh subur dan rapi. Aku berjalan mendekat. Lalu kulihat ada  wanita yang mengenakan sebuah gaun putih dan berambut pendek berwarna hitam berkilau. Dia sedang duduk di bangku putih yang terletak di taman, tepatnya di samping air mancur. Aku penasaran, mencoba menghampirinya agar dapat melihat dengan jelas wajahnya. Aku melangkah perlahan dan sudah sampai jarak hanya lima langkah dari cewek itu. Dia menoleh ke arahku. Senyumnya sangat manis, dan dia menatapku dengan tatapan indah yang tidak bisa kuterjemahkan makna dari tatapan mata indahnya itu. Kurasakan hatiku bergetar indah dan mengalun syahdu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Hingga kuberanikan diri untuk menyapa.

“Hai … boleh berkenalan denganmu?” tanyaku dengan tersendat-sendat dan sedikit grogi. Dia masih saja tersenyum menatapku tak menjawab. Sudah lama dia menatapku dan masih tak menjawabnya.

Kriiiinggggg! Kriiiingg!

Alarm jamku berbunyi. Aku terhenyak bangun dari  tidurku.

Ah, Cuma mimpi ternyata,” batinku. Aku masih jelas mengingat wajah wanita itu.  Bagaimana tidak? Senyum dan kedua tatapan matanya itu sangat tergambar jelas di hatiku. Padahal biasanya setelah mimpi, aku lupa tentang apa yang sudah aku mimpikan.

Seperti biasanya hari-hariku terasa jenuh dan membosankan dengan aktivitas yang sama. Keseharianku bekerja sebagai seorang staff administrasi di salah satu perusahaan. Setiap hari selalu berhadapan dengan pekerjaan menumpuk yang menguras otak dan tenaga. Entah kenapa hampir dua tahun bekerja di situ aku selalu merasa jenuh. Mungkin karena selama hampir dua tahun juga aku menjomblo dan tidak memiliki seorang pacar. Dan juga karena memang aku yang hanya mempunyai sedikit teman di tempat kerja, jadi hari-haiku terasa membosankan.

Hari libur kerjaku sering kuhabiskan hanya di rumah saja untuk membaca novel dengan ditemani oleh secangkir teh yang selalu kubuat sendiri. Secangkir kecil teh yang kuhabiskan dalam waktu berjam-jam karena hanya kuseruput sesekali sebagai selinganku saat membaca novel, dan memang begitulah caraku menikmati waktu liburku. Teh dan novel yang selalu tak  ketinggalan. Aku sering lupa waktu kalau sudah dalam keadaan seperrti ini.

“Surya! ini hari minggu, kenapa kamu cuma di rumah. Kalau begini terus kapan kamu punya pacar dan segera berumah tangga. Ibumu kan pengen sekali punya mantu.” Kalimat itu sering bapak lontarkan untukku. Ibu pun terkadang menanyakan akan hal itu, tetapi tidak sesering bapak.

“Libur kali ini aku malas pergi-pergi Pak,” jawabku.

“Libur kali ini apanya? setiap libur kamu pasti Cuma di rumah. Pantesan nggak punya pasangan terus.”

“Kalau Tuhan belum mempertemukan kita dengan jodoh kita ya mau bagaimana lagi. Jodoh kan rahasia Tuhan Pak,” alasanku sebagai jurus untuk menjawab pertanyaan Bapak.

“Iya tahu, jodoh itu rahasia yang berada di tangan Tuhan. Tapi bagaimana bisa Tuhan memberikan jodoh dari tangan-Nya, jika kamu sendiri tak mau berusaha menggapainya. Lihat saja itu adik kelasmu si Dodi dan sepupumu Rudi, mereka sudah pada punya istri dan anak. Lha kamu kerja saja rajin, tapi nyari jodoh males-malesan. Bapak merasa senang kamu sudah punya pekerjaan tetap, Surya. Tetapi Bapak sama Ibu juga ingin kamu juga segera berumah tangga.” Jleb … kalimat bapakku yang satu ini membuatku terdiam dan tak mampu menjawabnya lagi.

***


Hari ini benar-benar melelahkan dan mengesalkan. Pekerjaan lebih menumpuk dari biasanya dan beberapa kali aku dimarahi atasan. Ah kalau itu bukan atasanku sudah kuajak berkelahi dia. Sepulang kerja kupacu motorku pergi ke alun-alun untuk sekedar melamunkan kebosanan hidupku. Karena setelah melamun dan mengasingkan diri di situ, perasaanku selalu merasa lebih baik. Aku duduk di bangku di bawah pohon yang rindang sambil menghabiskan sepiring somaiy dan segelas teh hangat yang memang biasa kupesan di pedagang kaki lima di sekitar situ. Aku melamun merenung sembari menatapi lalu lalang orang-orang dan kendaraan yang melewati sekitaran alun-alun kota. Satu jam lebih aku duduk melepas penat di sini dan perasaanku sudah membaik

“Sudah Kang. Tadi somay sama teh anget, jadi berapa?” tanyaku kepada Kang Sugeng, penjual somay langgananku.

“Seperti biasa, tujuh ribu saja Mas Surya,” jawab kang Sugeng yang memang telah akrab mengenalku.

Kurogoh dompetku untuk mengambil uang sepuluh ribuan. Tiba-tiba mataku terhenyak tertuju pada sesosok cewek yang sedang berjalan di jalan di dekat alun-alun. Aku mengingat wajah manis itu, dia cewek bersenyum manis dan bermata indah yang semalam ada di mimpiku. Aku bengong dan tertegun, terus memandanginya tanpa mengedipkan mata, dia tidak tahu sedang kupandangi.

“Mas Surya! Mas Surya! Lihat apa toh?” Kang Sugeng mengagetkanku. Aku segera membayar dengan uang sepuluh ribuan yang sudah ada di tanganku dan sesekali tetap melirik ke arah cewek itu.

“Ini kembaliannya Mas.” Kang Sugeng memberikan uang kembalian yang langsung kuterima dan kumasukkan ke dalam saku.

 “Terima kasih Kang.”

Tiba-tiba saja aku ingin mengikutinya agar mengetahui dimana tempat tinggalnya. Aku setengah berlari mengejar ke arah cewek itu berjalan. Terlihat dia melangkah memasuki gang yang lumayan kecil dengan suasana sepi karena memang sudah larut malam. Aku terus mengikutinya dengan menjaga jarak dan langkah pelan hati-hati. Tiba di pertigaan aku kehilangan jejaknya. Aku celingak-celinguk tak kunjung menemukannya.

 Tiba-tiba bluk plak blukk ...
Pukulan dan tendangan keras mengarah ke wajah dan perutku. Ternyata yang memukulku adalah cewek itu, mungkin dia mengetahui bahwa aku membuntutinya sejak tadi, dan mengira bahwa aku adalah orang jahat.

“Toloong,” cewek itu berteriak sambil tetap memukulku yang tidak melawan, hanya menghindar dan menutupi badanku yang terus dipukulinya. Dia menghentikan pukulannya setelah melihat jelas wajahku, terlihat dia seperti kaget melihatku. Apakah mungkin dia mengenalku? Padahal aku saja sama sekali tak mengenalnya.

“Ada apa ini Mbak? diapain sama dia? dicopet ya?” Sesosok tubuh kekar berseragam hansip dan memegang erat pentungan mendekati kami, mungkin karena sebelumnya dia mendengarkan teriakan minta tolong cewek itu.

“Bukan kok Pak Darto, dia pacar saya. Tadi kita lagi berantem. He he,” Jawab cewek itu sembari tersenyum. Jawabannya tidak seperti yang aku takutkan.

“Ah masa berantem minta tolong segala tadi. Saya nggak percaya.Sepertinya Mbak tidak benar-benar kenal sama dia. Coba kalau memang itu pacar Mbak, namanya siapa dan tanggal lahirnya berapa?”

“Namanya Surya Adi Satria, Tanggal lahir 9 November 1988.” Tidak kusangka dia menjawabnya dengan benar dan sangat lancar. Aku bingung dan hanya diam.

“Sini Mas tunjukin KTPmu.” Kukeluarkan dompet dari saku, kuambil KTP di dalamnya. Lalu kuserahkan pada Pak Hansip itu. Pak Hansip melhat biodata KTP-ku dengan seksama.

“Oh iya benar. Ya sudah.”

“Makasih Pak,” jawabku dan cewek itu serempak.

Pak Hansip membiarkan kami pergi.

“Ayo antar aku sampai depan rumah!” cewek itu menarik bajuku untuk mengikuti langkahnya. Aku berjalan mengiringinya. “kenapa kamu tadi mengikutiku? Kukira kamu rampok” imbuhnya.

Bagaimana kamu tahu nama dan tanggal lahirku? Bahkan namamu pun aku ” aku bertanya karena benar-benar masih bingung, bagaimana bisa dia mengetahui nama dan tanggal lahurku dengan baik.

“Nah ini sudah sampai di depan rumahku. Udah ya. Kalau kamu beneran ingin tahu rumahku malam minggu besok temui aku di “Kafe Pelangi” jam 7 malam. Jangan sampai telat!”

******

“Kenapa kamu tahu banyak tentangku? Bahkan aku sendiri tidak kenal kamu.” Aku duduk berhadapan dengannya di sebuah kafe, tersaji dua gelas orange juice dan beberapa makanan di meja. Dia mengenakan setelan pakaian casual dengan gaya agak tomboy, tapi tetap terlihat manis.

“Kak Surya, namaku Wulan, kan  dulu adik kelasmu saat masih SMP.”

“Benarkah itu Wulan? Aku kok nggak pernah kenal kamu. Tapi kenapa kamu tahu tanggal lahirku segala?”

“Jelas lah kamu nggak kenal aku, wong aku dulu nggak terkenal dan kita emang nggak pernah benar-benar kenal. Aku suka sekali semua puisi-puisimu yang dulu selalu terpajang di Mading sekolah. Dari situ aku kagum padamu dan menjadi penggemarmu. Dulu sering iseng-iseng mencari tahu semua tentangmu. Dari hobimu, makanan kesukaanmu sampai tanggal lahirmu. Dan aku masih mengingatnya sampai sekarang.” Aku tertegun mendengar jawabannya, tak kusangka cewek manis impianku yang ada di mimpiku kenal baik tentangku. “Kenapa malam itu kamu mengikutiku?” tanya Wulan padaku.

“Semalam sebelum aku mengikutimu aku memimpikanmu. Aku kaget waktu melihatmu di alam nyata, jadi aku segera mengikutimu agar tahu rumahmu.” Jawabanku membuat dia tertawa lirih, dengan tetap menunjukkan wajah manisnya.

“Untung waktu itu aku tidak memukulmu dengan batu hahaha.” Sontak saja membuat kami berdua sama-sama tertawa membayangkan pertemuan konyol kita di malam itu.

***

“Ini ayah tehnya,” seorang wanita cantik bermmbut pendek membawakan teh untukku yang sedang membaca Novel di teras. Ya dia Wulan, wanita manis yang ada di dalam mimpiku itu kini menjadi istri sahku, dan telah memberikan seorang buah hati cantik buatku.

“Makasih Bunda Sayang, secangkir teh dari alam mimpinya,” candaku padanya yang membuatnya tertawa. Aku memang selalu menyebut teh buatannya sebagai secangkir teh dari alam mimpi, karena dia memang wanita yang ada di mimpiku yang kini benar-benar menjadi tambatan jiwaku.

Sekarang setiap aku mengisi waktu liburku dengan membaca novel di teras rumah, aku tak lagi membuat teh sendiri, tetapi selalu dibuatkan oleh istriku yang dulu hanya ada dalam mimpiku. Tidak hanya pada hari libur, tetapi setiap pagi secangkir teh selalu dia sajikan untukku, secangkir teh dari alam mimpi.Kehadirannya dalam hidupku memberikan warna yang begitu indah di hari-hariku. Meskipun kami tinggal di rumah sederhana yang belum habis angsurannya, tetapi aku merasa bahagia dengan keluarga kecilku yang harmonis dan penuh kasih sayang ini.

Mungkin istana tak berdinding yang ada di mimpiku pada  malam itu adalah gambaran dari keluargaku saat ini yang meskipun sederhana ,tetapi kaya akan kebahagiaan dan penuh kasih sayang yang seluas semesta dan tak terbatas oleh dinding apapun.

*
SELESAI 
(Saya buat bulan Januari 2015)

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

Rindu yang Terlupa

'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku' Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer. Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebag...

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...