Pandanganku tertuju pada istana terbuat dari emas, tapi aneh sekali
istananya hanya atap dan tiang penyangga tanpa ada dindingnya. Dengan indahnya
panorama taman yang terhiasi pesona warna dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh
subur dan rapi. Aku berjalan mendekat. Lalu kulihat ada wanita yang mengenakan sebuah gaun putih dan
berambut pendek berwarna hitam berkilau. Dia sedang duduk di bangku putih yang
terletak di taman, tepatnya di samping air mancur. Aku penasaran, mencoba
menghampirinya agar dapat melihat dengan jelas wajahnya. Aku melangkah perlahan
dan sudah sampai jarak hanya lima langkah dari cewek itu. Dia menoleh ke
arahku. Senyumnya sangat manis, dan dia menatapku dengan tatapan indah yang
tidak bisa kuterjemahkan makna dari tatapan mata indahnya itu. Kurasakan hatiku
bergetar indah dan mengalun syahdu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hingga kuberanikan diri untuk menyapa.
“Hai … boleh berkenalan denganmu?” tanyaku dengan tersendat-sendat
dan sedikit grogi. Dia masih saja tersenyum menatapku tak menjawab. Sudah lama
dia menatapku dan masih tak menjawabnya.
Kriiiinggggg! Kriiiingg!
Alarm jamku berbunyi. Aku terhenyak bangun
dari tidurku.
“Ah, Cuma mimpi ternyata,” batinku. Aku masih jelas mengingat wajah wanita
itu. Bagaimana tidak? Senyum dan kedua tatapan matanya itu sangat
tergambar jelas di hatiku. Padahal biasanya setelah mimpi, aku lupa tentang apa
yang sudah aku mimpikan.
Seperti biasanya hari-hariku terasa jenuh dan membosankan dengan
aktivitas yang sama. Keseharianku bekerja sebagai seorang staff administrasi di
salah satu perusahaan. Setiap hari selalu berhadapan dengan pekerjaan menumpuk
yang menguras otak dan tenaga. Entah kenapa hampir dua tahun bekerja di situ
aku selalu merasa jenuh. Mungkin karena selama hampir dua tahun juga aku
menjomblo dan tidak memiliki seorang pacar. Dan juga karena memang aku yang
hanya mempunyai sedikit teman di tempat kerja, jadi hari-haiku terasa
membosankan.
Hari libur kerjaku sering kuhabiskan hanya di rumah saja untuk
membaca novel dengan ditemani oleh secangkir teh yang selalu kubuat sendiri. Secangkir
kecil teh yang kuhabiskan dalam waktu berjam-jam karena hanya kuseruput
sesekali sebagai selinganku saat membaca novel, dan memang begitulah caraku
menikmati waktu liburku. Teh dan novel yang selalu tak ketinggalan. Aku sering lupa waktu kalau
sudah dalam keadaan seperrti ini.
“Surya! ini hari minggu, kenapa kamu cuma di rumah. Kalau begini
terus kapan kamu punya pacar dan segera berumah tangga. Ibumu kan pengen sekali
punya mantu.” Kalimat itu sering bapak lontarkan untukku. Ibu pun terkadang
menanyakan akan hal itu, tetapi tidak sesering bapak.
“Libur kali ini aku malas pergi-pergi Pak,” jawabku.
“Libur kali ini apanya? setiap libur kamu pasti Cuma di rumah.
Pantesan nggak punya pasangan terus.”
“Kalau Tuhan belum mempertemukan kita dengan jodoh kita ya mau
bagaimana lagi. Jodoh kan rahasia Tuhan Pak,” alasanku sebagai jurus untuk
menjawab pertanyaan Bapak.
“Iya tahu, jodoh itu rahasia yang berada di tangan Tuhan. Tapi
bagaimana bisa Tuhan memberikan jodoh dari tangan-Nya, jika kamu sendiri tak
mau berusaha menggapainya. Lihat saja itu adik kelasmu si Dodi dan sepupumu
Rudi, mereka sudah pada punya istri dan anak. Lha kamu kerja saja rajin, tapi
nyari jodoh males-malesan. Bapak merasa senang kamu sudah punya pekerjaan
tetap, Surya. Tetapi Bapak sama Ibu juga ingin kamu juga segera berumah
tangga.” Jleb … kalimat bapakku yang satu ini membuatku terdiam dan tak mampu
menjawabnya lagi.
***
Hari ini benar-benar melelahkan dan mengesalkan. Pekerjaan lebih
menumpuk dari biasanya dan beberapa kali aku dimarahi atasan. Ah kalau itu
bukan atasanku sudah kuajak berkelahi dia. Sepulang kerja kupacu motorku pergi
ke alun-alun untuk sekedar melamunkan kebosanan hidupku. Karena setelah melamun
dan mengasingkan diri di situ, perasaanku selalu merasa lebih baik. Aku duduk
di bangku di bawah pohon yang rindang sambil menghabiskan sepiring somaiy dan
segelas teh hangat yang memang biasa kupesan di pedagang kaki lima di sekitar
situ. Aku melamun merenung sembari menatapi lalu lalang orang-orang dan
kendaraan yang melewati sekitaran alun-alun kota. Satu jam lebih aku duduk
melepas penat di sini dan perasaanku sudah membaik
“Sudah Kang. Tadi somay sama teh anget, jadi berapa?” tanyaku kepada
Kang Sugeng, penjual somay langgananku.
“Seperti biasa, tujuh ribu saja Mas Surya,” jawab kang Sugeng yang
memang telah akrab mengenalku.
Kurogoh dompetku untuk mengambil uang sepuluh ribuan. Tiba-tiba
mataku terhenyak tertuju pada sesosok cewek yang sedang berjalan di jalan di
dekat alun-alun. Aku mengingat wajah manis itu, dia cewek bersenyum manis dan
bermata indah yang semalam ada di mimpiku. Aku bengong dan tertegun, terus memandanginya
tanpa mengedipkan mata, dia tidak tahu sedang kupandangi.
“Mas Surya! Mas Surya! Lihat apa toh?” Kang Sugeng mengagetkanku.
Aku segera membayar dengan uang sepuluh ribuan yang sudah ada di tanganku dan
sesekali tetap melirik ke arah cewek itu.
“Ini kembaliannya Mas.” Kang Sugeng memberikan uang kembalian yang
langsung kuterima dan kumasukkan ke dalam saku.
“Terima kasih Kang.”
Tiba-tiba saja aku ingin mengikutinya agar mengetahui dimana tempat
tinggalnya. Aku setengah berlari mengejar ke arah cewek itu berjalan. Terlihat
dia melangkah memasuki gang yang lumayan kecil dengan suasana sepi karena
memang sudah larut malam. Aku terus mengikutinya dengan menjaga jarak dan langkah
pelan hati-hati. Tiba di pertigaan aku kehilangan jejaknya. Aku celingak-celinguk
tak kunjung menemukannya.
Tiba-tiba bluk plak blukk ...
Pukulan dan tendangan keras mengarah ke wajah dan perutku. Ternyata yang
memukulku adalah cewek itu, mungkin dia mengetahui bahwa aku membuntutinya
sejak tadi, dan mengira bahwa aku adalah orang jahat.
“Toloong,” cewek itu berteriak sambil tetap memukulku yang tidak
melawan, hanya menghindar dan menutupi badanku yang terus dipukulinya. Dia
menghentikan pukulannya setelah melihat jelas wajahku, terlihat dia seperti
kaget melihatku. Apakah mungkin dia mengenalku? Padahal aku saja sama sekali
tak mengenalnya.
“Ada apa ini Mbak? diapain sama dia? dicopet ya?” Sesosok tubuh
kekar berseragam hansip dan memegang erat pentungan mendekati kami, mungkin
karena sebelumnya dia mendengarkan teriakan minta tolong cewek itu.
“Bukan kok Pak Darto, dia pacar saya. Tadi kita lagi berantem. He
he,” Jawab cewek itu sembari tersenyum. Jawabannya tidak seperti yang aku
takutkan.
“Ah masa berantem minta tolong segala tadi. Saya nggak percaya.Sepertinya
Mbak tidak benar-benar kenal sama dia. Coba kalau memang itu pacar Mbak, namanya
siapa dan tanggal lahirnya berapa?”
“Namanya Surya Adi Satria, Tanggal lahir 9 November 1988.” Tidak
kusangka dia menjawabnya dengan benar dan sangat lancar. Aku bingung dan hanya
diam.
“Sini Mas tunjukin KTPmu.” Kukeluarkan dompet dari saku, kuambil KTP
di dalamnya. Lalu kuserahkan pada Pak Hansip itu. Pak Hansip melhat biodata
KTP-ku dengan seksama.
“Oh iya benar. Ya sudah.”
“Makasih Pak,” jawabku dan cewek itu serempak.
Pak Hansip membiarkan kami pergi.
“Ayo antar aku sampai depan rumah!” cewek itu menarik bajuku untuk
mengikuti langkahnya. Aku berjalan mengiringinya. “kenapa kamu tadi
mengikutiku? Kukira kamu rampok” imbuhnya.
Bagaimana kamu tahu nama dan tanggal lahirku? Bahkan namamu pun aku
” aku bertanya karena benar-benar masih bingung, bagaimana bisa dia mengetahui
nama dan tanggal lahurku dengan baik.
“Nah ini sudah sampai di depan rumahku. Udah ya. Kalau kamu beneran
ingin tahu rumahku malam minggu besok temui aku di “Kafe Pelangi” jam 7 malam.
Jangan sampai telat!”
******
“Kenapa kamu tahu banyak tentangku? Bahkan aku sendiri tidak kenal
kamu.” Aku duduk berhadapan dengannya di sebuah kafe, tersaji dua gelas orange
juice dan beberapa makanan di meja. Dia mengenakan setelan pakaian casual
dengan gaya agak tomboy, tapi tetap terlihat manis.
“Kak Surya, namaku Wulan, kan dulu adik kelasmu saat masih SMP.”
“Benarkah itu Wulan? Aku kok nggak pernah kenal kamu. Tapi kenapa
kamu tahu tanggal lahirku segala?”
“Jelas lah kamu nggak kenal aku, wong aku dulu nggak terkenal dan
kita emang nggak pernah benar-benar kenal. Aku suka sekali semua puisi-puisimu
yang dulu selalu terpajang di Mading sekolah. Dari situ aku kagum padamu dan
menjadi penggemarmu. Dulu sering iseng-iseng mencari tahu semua tentangmu. Dari
hobimu, makanan kesukaanmu sampai tanggal lahirmu. Dan aku masih mengingatnya
sampai sekarang.” Aku tertegun mendengar jawabannya, tak kusangka cewek manis
impianku yang ada di mimpiku kenal baik tentangku. “Kenapa malam itu kamu
mengikutiku?” tanya Wulan padaku.
“Semalam sebelum aku mengikutimu aku memimpikanmu. Aku kaget waktu
melihatmu di alam nyata, jadi aku segera mengikutimu agar tahu rumahmu.”
Jawabanku membuat dia tertawa lirih, dengan tetap menunjukkan wajah manisnya.
“Untung waktu itu aku tidak memukulmu dengan batu hahaha.” Sontak
saja membuat kami berdua sama-sama tertawa membayangkan pertemuan konyol kita
di malam itu.
***
“Ini ayah tehnya,” seorang wanita cantik bermmbut pendek membawakan
teh untukku yang sedang membaca Novel di teras. Ya dia Wulan, wanita manis yang
ada di dalam mimpiku itu kini menjadi istri sahku, dan telah memberikan seorang
buah hati cantik buatku.
“Makasih Bunda Sayang, secangkir teh dari alam mimpinya,” candaku
padanya yang membuatnya tertawa. Aku memang selalu menyebut teh buatannya
sebagai secangkir teh dari alam mimpi, karena dia memang wanita yang ada di
mimpiku yang kini benar-benar menjadi tambatan jiwaku.
Sekarang setiap aku mengisi waktu liburku dengan membaca novel di
teras rumah, aku tak lagi membuat teh sendiri, tetapi selalu dibuatkan oleh
istriku yang dulu hanya ada dalam mimpiku. Tidak hanya pada hari libur, tetapi
setiap pagi secangkir teh selalu dia sajikan untukku, secangkir teh dari alam
mimpi.Kehadirannya dalam hidupku memberikan warna yang begitu indah di
hari-hariku. Meskipun kami tinggal di rumah sederhana yang belum habis
angsurannya, tetapi aku merasa bahagia dengan keluarga kecilku yang harmonis
dan penuh kasih sayang ini.
Mungkin istana tak berdinding yang ada di mimpiku pada malam itu adalah gambaran dari keluargaku
saat ini yang meskipun sederhana ,tetapi kaya akan kebahagiaan dan penuh kasih
sayang yang seluas semesta dan tak terbatas oleh dinding apapun.
*
SELESAI
(Saya buat bulan Januari 2015)

Comments
Post a Comment