Skip to main content

AKU TIDAK GILA



 
Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu.

Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu mengendalikan emosinya, Kuntoro berteriak-teriak sendiri dalam perpasungannya, bergerak memberontak seakan singa yang sedang mengamuk. Semua warga desa menganggapnya gila, tak ada satu pun yang menganggapnya waras, begitupun Pak Wasman satu-satunya orang yang kasihan terhadapnya pun tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kuntoro, dan tidak percaya kalau Kuntoro itu tidak gila.

"Aku tidak gila, aku hanya butuh seseorang mendengarku dan menenangkanku, syukur-syukur bisa mempercayaiku,” batin Kuntoro merintih mengiris menahan luka hatinya, meratapi garis getir hidupnya.

Sudah dua tahun lebih lamanya Kuntoro, remaja desa berumur 16 tahun itu dalam pasungan. Ini semua berawal dari sebuah kejadian yang amat sangat memukul nurani Kuntoro. Kejadian yang menodai dan merenggut nyawa adiknya, satu-satunya harta yang dimiliki Kuntoro. Karena beberapa tahun yang lalu Ibu Kuntoro telah meninggal dan Bapaknya pergi entah kemana. Kuntoro pun tak memiliki saudara sama sekali.

Waktu itu Kuntoro melihat dengan mata kepala sendiri adiknya yaitu Lilis yang saat itu berusia 12 tahun diperkosa oleh dua orang perangkat di desanya. Itu terjadi pada siang menjelang sore hari di kebun teh yang jauh dari keramaian warga. Kuntoro yang melihatnya dan berusaha melawan langsung dikeroyok daihujani pukulan oleh kedua perangkat desa yang bernama Tardi dan Wiryo itu dan diikat dengan tambang yang kuat pada sebuah pohon besar. Kuntoro berteriak kala melihat mereka berdua mulai bergantian memperdayai tubuh mungil nan halus adiknya, menghisap madu mahkota keperawanannya, memaksa dengan kasar bak binatang, melakukan hal laknat yang seharusnya tidak dilakukan, Lilis menjerit kesakitan dan penuh berontak sembari bederaian air mata.

“Kakaaak, tolong aku, tolong,” jerit Lilis dengan penuh tangis dan rasa takut teramat sangat, sambil meronta saat pakaian penutup mahkotanya dilucuti dengan paksa, tetapi apa daya rontaannya tak mampu mengalahkan tenaga dua lelaki dewasa yang tengah terbutakan oleh nafsu.

“Hei perangkat desa biadab, laknat, binatang, lepaskan adikku, kau bunuh saja aku. Lilis maafkan aku. Tolooong!” Kuntoro berteriak tidak karuan dengan penuh amarah dan rasa benci mendalam, yang hanya ditanggapi oleh Tardi dan Wiryo itu dengan tertawa sinis.

“Dasar kurang ajar, percuma kamu berteriak sekencang-kencangnya. Tidak akan ada yang mendengarnya,” ucap Wiryo dengan menampar Kuntoro dan diikuti oleh gelak tawa keji Tardi.

"Bunuh saja aku Biadab, cuh," Kuntoro meludahi muka Wiryo.

"Sialan, berani-beraninya kau meludahiku bocah tengik," Wiryo bersungut marah dan menampari lagi wajah Kuntoro berkali-kali.

"Jangan pukuli kakakku," teriak Lilis.

“Adikmu cantik dan mulus sekali jadi tidak ada alasan aku untuk tidak menikmati tubuh moleknya,” 
kata Tardi, sambil berusaha melucuti paksa pakaian Lilis dan tak sabar memaksakan gejolak nafsunya.

"Jangan ... tolong lepaskan aku!" hanya kata-kata itu yang berulang-ulang diteriakkan oleh Lilis saat tubuh mungilnya dipaksa menerima hujaman nafsu membabi-buta dua lelaki sekaligus.

"Binatang, biadab, jahanam, perangkat desa iblis." hanya teriakan makian yang keluar dari mulut Kuntoro saat menyaksikan dengan jelas adiknya yang masih polos dipaksa untuk meladeni perlakuan bejad Wiryo dan Tardi.

Satu jam yang penuh gelora laknat itu berlalu. Dengan gelimang senyum kepuasan dan sayup terdengar suara tangis Lilis, mereka mengakhiri perbuatan keji itu, lalu memakaikan pakaian kembali ke tubuh Lilis dan membuangnya ke lembah terjal yang penuh bebatuan. Tubuh mungil tak berdosa yang telah ternoda itu terguling ke arah lembah dengan terbentur-bentur keras dan terjalnya bebatuan. Air mata dan darahnya berceceran di setiap kesaksian tanah tempat dia tergelinding dan sampai bawah terbentur batu besar yang sontak membuat Lilis langsung meninggal dengan tubuh ternoda dan penuh benturan keras bebatuan yang keras.

“Tidaak, dasar laknat kalian, akan kubunuh kalian, apakah tidak cukup menggagahi tubuh tak berdosa adikku lalu sekarang kalian membunuhnya dengan keji. Hei Biadab, mau kau bawa kemana lagi tubuh adikku” teriak Kuntoro dengan perasaan yang penuh amarah dan tak dapat ditahankan, air mata yang menetes di pelupuk mataanya, tidak menyangka dengan kenyataan kejinya kehidupan yang baru saja dilihatnya. Dan itu dilakukan oleh perangkat desa yang katanya orang baik-baik dan dijadikan. Yang ada di benak Kuntoro hanya ingin membunuh mereka berdua. Kuntoro terus menangis dan berteriak menumpahkan amarahnya.

Kedua perangkat desa jahanam itui kemudian kembali ke desa dengan membopong tubuh Lilis yang telah meninggal dan menemui Pak Lurah yang sedang mengobrol bersama warga lainnya.

“Assalamu’alaikum Pak Lurah,” Tardi dan Wiryo mengucapkan salam serempak.

“Wa’alaikumsalam, ada apa Pak Wiryo dan Pak Tardi? Itu Lilis kenapa?” tanya Pak Lurah yang melihat tubuh Lilis yang penuh ceceran darah sedang dibopong oleh Wiryo dan Tardi.

“Begini Pak, itu Si Lilis meninggal jatuh dari bukit padahal sebelumnya kami sudah melarangnya main di situ,” cerita Tardi.

“Iya pak, kemudian datang Kuntoro yang melihat adiknya meninggal dan menuduh kami memperkosa Lilis dan membunuhnya padahal kami tak melakukan itu, jadi kami langsung mengikat Kuntoro karena Kuntoro terus berteriak dan mengamuk, kami takut Kuntoro akan memukul kami,” timpal Wiryo dengan kalimat yang penuh sandiwara dan memasang raut wajah sedih agar bisa memperdayai semua yang mendengarnya.Dan memang itu berhasil membuat Pak Lurah dan semua warga mempercayai perkataan Wiryo dan Pardi. Sebagian warga bergegas pergi ke tempat Kuntoro diikat untuk dilepaskan dan ada beberapa yang mengurusi jasad Lilis untuk dikebumikan.

Kuntoro menceritakan semua yang dilihatnya kepada Pak Lurah dan semua warga, tetapi tak ada satupun yang mempercayainya. Semua orang lebih percaya kepada Pardi dan Wiryo, perangkat desa yang memang sangat pandai bergaul,terlihat selalu berkata sopan dengan para warga dan juga mereka rajin menyumbang Masjid. Pada saat acara pemakaman Lilis, Kuntoro mengamuk memukuli beberapa warga dan berteriak menyerukan bahwa Lilis itu diperkosa dan dibunuh, dan tetap saja tidak ada yang percaya dan menyangka Kuntoro gila karena perasaannya terpukul oleh kematian adiknya. Akhirnya semua warga memutuskan Kuntoro untuk dipasung sampai pikirannya waras kembali. Begitulah awal dari dipasungnya Kuntoro sampai sekarang ini yang sudah hamper dua tahun dari kejadian tersebut.

****

Di sisi lain di desa itu ada keluarga pengusaha pemilik perkebunan teh yang pindah dari Jakarta ke desa itu, yaitu keluarga Pak Brata, Bu Brata dan soerang anak perempuannya yang masih SMA yang bernama Rena. Rena adalah gadis remaja yang tomboy dan suka berjalan-jalan memfoto pemandangan alam dan lebih suka pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan alam sendirian.

Ketika hari minggu Rena berjalan-jalan sendiri mengelilingi desa dan ketika itu dia mendengar ada teriakan lelaki yang seperti jeritan penuh luapan emosi dan tangis. Rena yang memang pemberani dan selalu ingin tahu kemudian mendekati Kuntoro yang terpasung dan sedang menangis dan terkadang berteriak. Sontak membuat Kuntoro terdiam melihat wajah wanita cantik yang mengingatkannya akan wajah adiknya yang telah meninggal dulu dan sontak membuat tangis Kuntoro semakin menjadi-jadi.

“Kenapa lo nangis? Kenapa lo dipasung?” tanya Rena dari luar kandang itu yang terhalang oleh sekat-sekat bambu, terlihat seperti bicara dengan narapidana yang berada dalam kerangkeng penjara.

“Percuma saja kalau aku menjawabnya, kamu tidak akan mempercayaiku, kamu pasti sama saja seperti mereka. Pergi kamu!” ucap Kuntoro lantang dan sinis penuh deraian emosi. Karena memang setelah kejadian na’as itu tiada lagi yang mempercayai dan dapat dipercayai Kuntoro.

“Gue saja belum tahu ceritanya,bagaimana bisa Lo katakan kalo gue nggak bakalan percaya?” balas Rena.

“Pergiii…! Pergiii…!” teriak Kuntoro lagi dengan mata tajam penuh amarah seperti orang yang kesetanan.

“Sudah nggak usah teriak-teriak gitu. Oke, Gue pergi,” jawab Rena yang memilih mengalah dan tak mau membuat teriakan Kuntoro semakin menjadi-jadi.

Rena bergegas pergi meninggalkan Kuntoro, dengan tetap menyisakan segenap tanda tanya di benaknya. Rena ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan laki-laki yang terpasung dan berteriak penuh tangis tadi. Hanya mendengar dan melihatnya sekejap, Rena seolah ikut merasakan apa yang laki-laki itu rasakan. Padahal Rena belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu. Hanya saja Rena merasa bahwa dipasung itu adalah hal yang konyol dan tidak pantas untuk menusia manapun.

Berhari-hari tanda tanya akan laki-laki itu selalu membebani pikiran Rena. Dibalik tangis, teriakan dan bentakan laki-laki itu, tersirat sorot matanya seperti sedang mengharap pertolongan. Rena masih melamun dan ingin melakukan sesuatu untuk menolong tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

“Neng lagi apa? Neng!,” suara Pak Tono tukang kebun di rumah Rena membuyarkan lamunan Rena saat berada di kursi halaman rumahnya sore itu.

“Eh Pak Tono, ini lagi memikirkan sesuatu,” jawab Rena yang telah terbuyar dari lamunannya sambil meringis sedikit malu.

“Memikirkan apa toh Neng? Kok sampai melamun di halaman rumah sore-sore begini”

“Oh ya kebetulan ada Pak Tono. Saya mau menanyakan sesuatu Pak. Laki-laki yang dipasung di kandang dekat sungai itu siapa ya?”

“Oh itu namanya Kuntoro, dia agak kurang waras semenjak ditinggal mati oleh adiknya yang bernama Lilis”

“Tetapi kenapa harus dipasung Pak? Apa tidak kasihan?” tanya Rena.

“Si Kuntoro itu sering mengamuk tiba-tiba Neng. Dulu saja dia mengamuk sampai memukuli beberapa warga. Itu sebabnya semua warga sepakat untuk memasungnya”

“Kenapa dia jadi suka mengamuk seperti itu Pak?” tanya Rena kembali.

“Nah begini ceritanya Neng, Kuntoro bersikukuh kalau adiknya meninggal karena diperkosa dan dibunuh oleh Tardi dan Wiryo, tetapi semua warga lebih mempercayai cerita Tardi dan Wiryo bahwa Lilis meninggal karena terpeleset di bukit dan membentur bebatuan. Tardi dan Wiryo adalah perangkat desa pada kala itu. Tardi dan Wiryo adalah orang yang sopan, pandai bergaul dan sering menyumbang untuk Masjid. Jadi kami semua lebih mempercayai perkataan mereka berdua daripada Kuntoro. Karena pada waktu itu juga Kuntoro menceritakannya seperti orang gila yang mengamuk-mengamuk sehingga kami yakin bahwa Kuntoro itu gila karena frustasi dan shock. Kami takut Kuntoro akan mengamuk kembali dan melukai warga lain, sehingga kami semua bersepakat untuk memasungnya di dalam kandang itu,” Pak Tono bercerita dan diperhatikan oleh Rena dengan seksama.

Mendengar cerita tersebut Rena tercenung, batinnya tidak terima akan ketidak adilan itu. Rena seakan telah larut dan benar-benar merasakan perih kesedihan mendalam yang dialami oleh Kuntoro.

“Jadi begitu ceritanya Neng.”

“Kasihan sekali dia,” Rena masih tercenung miris akan peristiwa yang mendera Kuntoro.

“Tapi beberapa bulan yang lalu Tardi dan Wiryo dipenjara selama 2,5 tahun karena ketahuan telah mengorupsi dana PNPM desa.”

“Oh ya, apakah Kuntoro mengetahui kalau mereka berdua sudah dipenjara?” tanya Rena.
“Sepertinya tidak Neng,” jawab Pak Tardi

Keesokan harinya setelah pulang sekolah Rena bergegas untuk segera menemui Kuntoro kembali. Rena mengayunkan langkah kaki penuh semangatnya untuk meyakinkan Kuntoro bahwa Rena mempercayai bahwa Kuntoro tidak gila dan semua cerita yang dikatakannya itu benar.

“Woi tukang marah, apa kabar lo?” Rena berucap dengan sedikit bercanda.

“Ngapain lagi kamu ke sini?” bentak Kuntoro.

“Sudah jangaan marah-marah, nanti cepet tua lho. Begini Gue sudah mencari tahu tentang kenapa Lo dipasung di sini. Dan Gue percaya sama Lo,” kata Rena meyakinkan dengan senyumnya.

"Benarkah?" Kuntoro masih berkata dengan nada tinggi yang dibalas Rena dengan anggukan. Kuntoro terdiam penuh haru dengan perlahan berderaian air matanya, beda dengan air mata duka yang dikucurkannya setiap hari, tangis kali ini adalah air mata haru bahagia, karena ini pertama kalinya ada orang yang mempercayainya. Rena pun ikut terharu dan hampir menitihkan air matanya dan kemudian menyeka air mata Kuntoro dengan tissue dari balik kandang tempat Kuntoro dikurung.

"Jangan pegang aku," bentak Kuntoro karena masih belum bisa menahan emosinya yang memang selalu tidak stabil.

“Sudah ya nangisnya, Gue ada kabar gembira untuk Lo,” Rena menenangkan Kuntoro kembali.

“Kabar gembira apa?” tanya Kuntoro datar.

“Beberapa bulan yang lalu dua orang yang membunuh adik Lo itu dipenjara selama 2,5 tahun karena ketahuan mengorupsi dana PNPM desa. Tapi gue merasa nggak terima atas tindakan keji mereka kepada adik Lo, Gue ingin mencari bukti pembunuhan mereka agar bisa melaporkan kasus itu dan memenjarakan mereka lebih lama lagi”

“Sudahlah enggak usah sok-sokan mau mencari bukti, kejadian itu sudah dua tahun lebih, tidak ada saksi yang melihatnya selain aku dan Tuhan. Percuma tidak ada yang akan memercayai kasus itu, aku saja belum sepenuhnya mempercayai kalau kamu itu memercayaiku”

“Gue beneran percaya kok, tapi kenapa Lo tidak ngedukung Gue, tapi kan...."

“Tidak usah tapi-tapian, kamu nyari bukti sampai kiamatpun tidak akan bisa, kamu hanya akan ditertawakan oleh orang-orang karena memercayai orang tak waras sepertiku. Oh ya, boleh aku minta tolong padamu?”

“Iya, minta tolong apa?,” tanya Rena.

“Beri aku selembar kertas dan bolpoin, letakkan bolpoin di tangan kananku dan kertas di bawahnya,” Rena merogoh isi tasnya dan menuruti apa yang diminta oleh Kuntoro.

“Terimakasih. Pulang sana sudah hampir Maghrib! Nanti kamu dicari”

“Baiklah Kuntoro, Gue pulang dulu. Besok pagi Gue libur. Gue mau ke sini lagi pagi hari,” Rena pulang dengan tersenyum karena sedikit berhasil menenangkan Kuntoro.

###

Pagi sekali Rena segera menemui Kuntoro sudah tidak sabar untuk melihat apa yang dituliskan Kuntoro dalam kertas itu. Sesampainya di tempat Kuntoro, Rena mendapati tubuh Kuntoro diam tak bergerak di perpasungannya.
“Kuntoro, bangun! Bangun!” Rena menggoyang-goyangkan tubuh Kuntoro karena menyangka Kuntoro masih tisur. Akan tetapi tubuh Kuntoro kaku dan tidak segera memberi respon yang membuat Rena berteriak panik. Pada saat itu Pak Wasman pun datang dan kaget ada seorang perempuan muda yang sedang berteriak membangunkan Kuntoro.

“Itu Kuntoro kenapa Neng?” tanya Pak Wasman ikut panik.

“Tidak tahu Pak, saya bangunkan tidak bangun-bangun, tubuhnya dingin dan kaku,” jawab Rena sambil terus mengguncang tubuh Kuntoro sembari meneteskan air mata.

Pak Wasman segera membuka gembok kandang dan masuk mengecek kondisi Kuntoro, memegang denyut nadinya ternyata sudah tidak ada detakan sama sekali. Tubuhnya kaku, bibirnya pucat membiru.

“Inalillahi wainnalillahi roji’un, denyut nadinya berhenti, tubuhnya dingin, dia sudah meninggal Neng,” Pak Wasman menitihkan air mata karena meskipun menganggap Kuntoro gila, dia tetap kasihan akan nasib Kuntoro. Rena berlari ke arah jasad kuntoro memeluk tubuhnya yang sedang dilepaskan pasungannya oleh Pak Wasman.

“Kuntoro! Kuntoro! Kenapa Lo meninggal. Kita kan baru saja berteman kemarin. Padahal kita belum sempat membuktikan kepada semua warga desa bahwa Lo tidak gila,” Rena menangis kencang sambil memeluk tubuh lunglai kurus kerontang Kuntoro.

“Di tangannya ada beberapa bekas gigitan ular berbisa Neng. Dia pasti meninggal karena gigitan ular berbisa,” ujar Pak Wasman.

Rena masih saja terus menangis menitihkan rasa duka mendalam akan Kuntoro, teman barunya. Tiba-tiba Rena melirik ke arah samping tubuh Kuntoro, Rena menemukan Secarik kertas kosong yang diberikan oleh Rena kemarin. Kertas itu kini telah penuh bertuliskan kata-kata yang ditulis sendiri oleh Kuntoro. Tulisan dari hasil tangan dirantai dan dengan menahan pegal pada kaki yang terpasung.

***

Kau manusia … katanya punya hati, tetapi tega membinatangkanku

Bahkan binatang pun masih bebas melompat, menari, beterbangan

Tatapan sinismu, olok-olokan anak-anakmu, ketidakpedulianmu

Binatang kecil yang merambati tubuhku menatapku dengan cemoohan

Seolah memang aku lebih rendah dan menyedihkan dari para binatang



Seringkali kalajengking dan kelabang merambati tubuh ini

Seonggok raga tak berdaya ini mencoba diam agar tak disengatnya

Tetap saja tubuh nelangsaku disengat oleh mereka

Beberapa hari pun tak hilang menahan rasa sakitnya yang tanpa diobati

Bisakah kalian membayangkannya?



Pernahkah kau rasa setiap detikmu merasakan sakit pada kaki yang terpasung erat

Menahan kesemutan yang seperti tidak ada akhirnya

Tangan terantai yang susah untuk sekedar menggaruk rasa gatal

Ingin bicara kejujuran tetapi tak ada satupun manusia memepercayai

Aku tak bisa menahan gejolak amarahku pun derai tangisku yang hampir mengering

Andai memori otakku bisa diubah menjadi video

Akan kucongkel otakku demi agar kalian percaya

Masih sangat terekam jelas memori akan kejadian naas yang menimpa adikku

Setiap teriakannya, tangisnya, rasa sakitnya, ketidak berdayaannya



Pernahkah pula kau membayangkan?

Usia 10 tahun kau ditinggal ibumu mati, bapakmu minggat entah kemana

Hanya ada adik perempuan satu-satunya yang kau punya

Kau relakan tubuh mudamu untuk menjadi buruh hina di kebun teh

Adikmu yang lebih belia lagi rela menjadi tukang cuci

Demi agar bisa tetap makan dan hidup di dunia yang kotor ini

Lalu tiba-tiba kau mendapati adikmu dinodai dengan keji lalu dibunuh

Kau menyaksikannya secara gambling dan semua orang tidak mempercayaimu

Lebih sakitnya lagi pemerkosa dan pembunuh itu yang lebih dipercayai

Hanya karena derajat mereka tinggi dan terlihat baik



Kudengar mereka berdua telah dipenjara karena menggerogoti uang desa

Hukuman 2,5 tahun itu sama sekali tak setimpal untuk biadab semacam mereka

Hanya saja aku telah mengikhlaskannya

Karena aku sangat yakin hukuman Tuhan itu ada dan lebih setimpal



Satu yang kupinta jikaa ragaku telah membusuk mati

Aku harap kalian semua memercayaiku dan ceritaku

Saat itu aku memukuli orang karena tak mampu menahan emosi akan carut marutnya hidupku

Aku mohon percayailah aku


Aku tidak gila!

Aku tidak gila!

Aku tidak gila!

***

Rena membacakan tulisan itu saat pemakaman Kuntoro, dengan suara lembutnya sembari berlinangan air mata. Setiap kata yang dibacakan Rena sangat penuh emosi mewakili perasaan yang dirasakan Kuntoro. Pak Lurah dan semua warga yang mendengarnya menitihkan air mata, menyesali akan ketidakpercayaannya kepada Kuntoro yang memang sebenarnya adalah anak yang baik. Kini penyesalan tinggal penyesalan yang tak terlalu berarti. Hanya saja kepercayaan itu pasti telah menenangkan sukma Kuntoro dan Lilis di surga sana. Sejak saat itu Rena memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang pengacara dan penggiat sosial yang bisa melindungi orang-orang yang kurang beruntung seperti Kuntoro-Kuntoro yang lainnya.

~~ SELESAI ~~

JKT 5 januari 2015
(Pernah dibukukan dalam antologi cerpen bersama bertajuk "Istana Tak Berdinding" yang diterbitkan oleh DIN'S Publishing)

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

Rindu yang Terlupa

'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku' Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer. Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebag...