Kuntoro
masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan
ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing.
Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari
Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga
tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak
berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan
senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun
lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu.
Setiap
hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin
yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi
buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali
sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung
mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu
mengendalikan emosinya, Kuntoro berteriak-teriak sendiri dalam perpasungannya,
bergerak memberontak seakan singa yang sedang mengamuk. Semua warga desa
menganggapnya gila, tak ada satu pun yang menganggapnya waras, begitupun Pak
Wasman satu-satunya orang yang kasihan terhadapnya pun tidak percaya dengan apa
yang dikatakan Kuntoro, dan tidak percaya kalau Kuntoro itu tidak gila.
"Aku
tidak gila, aku hanya butuh seseorang mendengarku dan menenangkanku,
syukur-syukur bisa mempercayaiku,” batin Kuntoro merintih mengiris menahan luka
hatinya, meratapi garis getir hidupnya.
Sudah
dua tahun lebih lamanya Kuntoro, remaja desa berumur 16 tahun itu dalam
pasungan. Ini semua berawal dari sebuah kejadian yang amat sangat memukul nurani
Kuntoro. Kejadian yang menodai dan merenggut nyawa adiknya, satu-satunya harta
yang dimiliki Kuntoro. Karena beberapa tahun yang lalu Ibu Kuntoro telah
meninggal dan Bapaknya pergi entah kemana. Kuntoro pun tak memiliki saudara
sama sekali.
Waktu
itu Kuntoro melihat dengan mata kepala sendiri adiknya yaitu Lilis yang saat
itu berusia 12 tahun diperkosa oleh dua orang perangkat di desanya. Itu terjadi
pada siang menjelang sore hari di kebun teh yang jauh dari keramaian warga.
Kuntoro yang melihatnya dan berusaha melawan langsung dikeroyok daihujani
pukulan oleh kedua perangkat desa yang bernama Tardi dan Wiryo itu dan diikat
dengan tambang yang kuat pada sebuah pohon besar. Kuntoro berteriak kala
melihat mereka berdua mulai bergantian memperdayai tubuh mungil nan halus
adiknya, menghisap madu mahkota keperawanannya, memaksa dengan kasar bak
binatang, melakukan hal laknat yang seharusnya tidak dilakukan, Lilis menjerit
kesakitan dan penuh berontak sembari bederaian air mata.
“Kakaaak,
tolong aku, tolong,” jerit Lilis dengan penuh tangis dan rasa takut teramat
sangat, sambil meronta saat pakaian penutup mahkotanya dilucuti dengan paksa,
tetapi apa daya rontaannya tak mampu mengalahkan tenaga dua lelaki dewasa yang
tengah terbutakan oleh nafsu.
“Hei
perangkat desa biadab, laknat, binatang, lepaskan adikku, kau bunuh saja aku.
Lilis maafkan aku. Tolooong!” Kuntoro berteriak tidak karuan dengan penuh
amarah dan rasa benci mendalam, yang hanya ditanggapi oleh Tardi dan Wiryo itu
dengan tertawa sinis.
“Dasar
kurang ajar, percuma kamu berteriak sekencang-kencangnya. Tidak akan ada yang
mendengarnya,” ucap Wiryo dengan menampar Kuntoro dan diikuti oleh gelak tawa
keji Tardi.
"Bunuh
saja aku Biadab, cuh," Kuntoro meludahi muka Wiryo.
"Sialan,
berani-beraninya kau meludahiku bocah tengik," Wiryo bersungut marah dan
menampari lagi wajah Kuntoro berkali-kali.
"Jangan
pukuli kakakku," teriak Lilis.
“Adikmu
cantik dan mulus sekali jadi tidak ada alasan aku untuk tidak menikmati tubuh
moleknya,”
kata Tardi, sambil berusaha melucuti paksa pakaian Lilis dan tak
sabar memaksakan gejolak nafsunya.
"Jangan
... tolong lepaskan aku!" hanya kata-kata itu yang berulang-ulang
diteriakkan oleh Lilis saat tubuh mungilnya dipaksa menerima hujaman nafsu
membabi-buta dua lelaki sekaligus.
"Binatang,
biadab, jahanam, perangkat desa iblis." hanya teriakan makian yang keluar
dari mulut Kuntoro saat menyaksikan dengan jelas adiknya yang masih polos
dipaksa untuk meladeni perlakuan bejad Wiryo dan Tardi.
Satu
jam yang penuh gelora laknat itu berlalu. Dengan gelimang senyum kepuasan dan
sayup terdengar suara tangis Lilis, mereka mengakhiri perbuatan keji itu, lalu
memakaikan pakaian kembali ke tubuh Lilis dan membuangnya ke lembah terjal yang
penuh bebatuan. Tubuh mungil tak berdosa yang telah ternoda itu terguling ke
arah lembah dengan terbentur-bentur keras dan terjalnya bebatuan. Air mata dan
darahnya berceceran di setiap kesaksian tanah tempat dia tergelinding dan
sampai bawah terbentur batu besar yang sontak membuat Lilis langsung meninggal
dengan tubuh ternoda dan penuh benturan keras bebatuan yang keras.
“Tidaak,
dasar laknat kalian, akan kubunuh kalian, apakah tidak cukup menggagahi tubuh
tak berdosa adikku lalu sekarang kalian membunuhnya dengan keji. Hei Biadab,
mau kau bawa kemana lagi tubuh adikku” teriak Kuntoro dengan perasaan yang
penuh amarah dan tak dapat ditahankan, air mata yang menetes di pelupuk
mataanya, tidak menyangka dengan kenyataan kejinya kehidupan yang baru saja
dilihatnya. Dan itu dilakukan oleh perangkat desa yang katanya orang baik-baik
dan dijadikan. Yang ada di benak Kuntoro hanya ingin membunuh mereka berdua.
Kuntoro terus menangis dan berteriak menumpahkan amarahnya.
Kedua
perangkat desa jahanam itui kemudian kembali ke desa dengan membopong tubuh
Lilis yang telah meninggal dan menemui Pak Lurah yang sedang mengobrol bersama
warga lainnya.
“Assalamu’alaikum
Pak Lurah,” Tardi dan Wiryo mengucapkan salam serempak.
“Wa’alaikumsalam,
ada apa Pak Wiryo dan Pak Tardi? Itu Lilis kenapa?” tanya Pak Lurah yang
melihat tubuh Lilis yang penuh ceceran darah sedang dibopong oleh Wiryo dan
Tardi.
“Begini
Pak, itu Si Lilis meninggal jatuh dari bukit padahal sebelumnya kami sudah
melarangnya main di situ,” cerita Tardi.
“Iya
pak, kemudian datang Kuntoro yang melihat adiknya meninggal dan menuduh kami
memperkosa Lilis dan membunuhnya padahal kami tak melakukan itu, jadi kami
langsung mengikat Kuntoro karena Kuntoro terus berteriak dan mengamuk, kami
takut Kuntoro akan memukul kami,” timpal Wiryo dengan kalimat yang penuh
sandiwara dan memasang raut wajah sedih agar bisa memperdayai semua yang
mendengarnya.Dan memang itu berhasil membuat Pak Lurah dan semua warga
mempercayai perkataan Wiryo dan Pardi. Sebagian warga bergegas pergi ke tempat
Kuntoro diikat untuk dilepaskan dan ada beberapa yang mengurusi jasad Lilis
untuk dikebumikan.
Kuntoro
menceritakan semua yang dilihatnya kepada Pak Lurah dan semua warga, tetapi tak
ada satupun yang mempercayainya. Semua orang lebih percaya kepada Pardi dan
Wiryo, perangkat desa yang memang sangat pandai bergaul,terlihat selalu berkata
sopan dengan para warga dan juga mereka rajin menyumbang Masjid. Pada saat
acara pemakaman Lilis, Kuntoro mengamuk memukuli beberapa warga dan berteriak
menyerukan bahwa Lilis itu diperkosa dan dibunuh, dan tetap saja tidak ada yang
percaya dan menyangka Kuntoro gila karena perasaannya terpukul oleh kematian
adiknya. Akhirnya semua warga memutuskan Kuntoro untuk dipasung sampai
pikirannya waras kembali. Begitulah awal dari dipasungnya Kuntoro sampai
sekarang ini yang sudah hamper dua tahun dari kejadian tersebut.
****
Di
sisi lain di desa itu ada keluarga pengusaha pemilik perkebunan teh yang pindah
dari Jakarta ke desa itu, yaitu keluarga Pak Brata, Bu Brata dan soerang anak
perempuannya yang masih SMA yang bernama Rena. Rena adalah gadis remaja yang
tomboy dan suka berjalan-jalan memfoto pemandangan alam dan lebih suka pergi
berjalan-jalan menikmati pemandangan alam sendirian.
Ketika
hari minggu Rena berjalan-jalan sendiri mengelilingi desa dan ketika itu dia
mendengar ada teriakan lelaki yang seperti jeritan penuh luapan emosi dan
tangis. Rena yang memang pemberani dan selalu ingin tahu kemudian mendekati
Kuntoro yang terpasung dan sedang menangis dan terkadang berteriak. Sontak
membuat Kuntoro terdiam melihat wajah wanita cantik yang mengingatkannya akan
wajah adiknya yang telah meninggal dulu dan sontak membuat tangis Kuntoro
semakin menjadi-jadi.
“Kenapa
lo nangis? Kenapa lo dipasung?” tanya Rena dari luar kandang itu yang terhalang
oleh sekat-sekat bambu, terlihat seperti bicara dengan narapidana yang berada
dalam kerangkeng penjara.
“Percuma
saja kalau aku menjawabnya, kamu tidak akan mempercayaiku, kamu pasti sama saja
seperti mereka. Pergi kamu!” ucap Kuntoro lantang dan sinis penuh deraian
emosi. Karena memang setelah kejadian na’as itu tiada lagi yang mempercayai dan
dapat dipercayai Kuntoro.
“Gue
saja belum tahu ceritanya,bagaimana bisa Lo katakan kalo gue nggak bakalan
percaya?” balas Rena.
“Pergiii…!
Pergiii…!” teriak Kuntoro lagi dengan mata tajam penuh amarah seperti orang
yang kesetanan.
“Sudah
nggak usah teriak-teriak gitu. Oke, Gue pergi,” jawab Rena yang memilih
mengalah dan tak mau membuat teriakan Kuntoro semakin menjadi-jadi.
Rena
bergegas pergi meninggalkan Kuntoro, dengan tetap menyisakan segenap tanda
tanya di benaknya. Rena ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan laki-laki
yang terpasung dan berteriak penuh tangis tadi. Hanya mendengar dan melihatnya
sekejap, Rena seolah ikut merasakan apa yang laki-laki itu rasakan. Padahal
Rena belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu. Hanya
saja Rena merasa bahwa dipasung itu adalah hal yang konyol dan tidak pantas
untuk menusia manapun.
Berhari-hari
tanda tanya akan laki-laki itu selalu membebani pikiran Rena. Dibalik tangis,
teriakan dan bentakan laki-laki itu, tersirat sorot matanya seperti sedang
mengharap pertolongan. Rena masih melamun dan ingin melakukan sesuatu untuk
menolong tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
“Neng
lagi apa? Neng!,” suara Pak Tono tukang kebun di rumah Rena membuyarkan lamunan
Rena saat berada di kursi halaman rumahnya sore itu.
“Eh
Pak Tono, ini lagi memikirkan sesuatu,” jawab Rena yang telah terbuyar dari
lamunannya sambil meringis sedikit malu.
“Memikirkan
apa toh Neng? Kok sampai melamun di halaman rumah sore-sore begini”
“Oh
ya kebetulan ada Pak Tono. Saya mau menanyakan sesuatu Pak. Laki-laki yang
dipasung di kandang dekat sungai itu siapa ya?”
“Oh
itu namanya Kuntoro, dia agak kurang waras semenjak ditinggal mati oleh adiknya
yang bernama Lilis”
“Tetapi
kenapa harus dipasung Pak? Apa tidak kasihan?” tanya Rena.
“Si
Kuntoro itu sering mengamuk tiba-tiba Neng. Dulu saja dia mengamuk sampai
memukuli beberapa warga. Itu sebabnya semua warga sepakat untuk memasungnya”
“Kenapa
dia jadi suka mengamuk seperti itu Pak?” tanya Rena kembali.
“Nah
begini ceritanya Neng, Kuntoro bersikukuh kalau adiknya meninggal karena
diperkosa dan dibunuh oleh Tardi dan Wiryo, tetapi semua warga lebih
mempercayai cerita Tardi dan Wiryo bahwa Lilis meninggal karena terpeleset di
bukit dan membentur bebatuan. Tardi dan Wiryo adalah perangkat desa pada kala
itu. Tardi dan Wiryo adalah orang yang sopan, pandai bergaul dan sering
menyumbang untuk Masjid. Jadi kami semua lebih mempercayai perkataan mereka
berdua daripada Kuntoro. Karena pada waktu itu juga Kuntoro menceritakannya
seperti orang gila yang mengamuk-mengamuk sehingga kami yakin bahwa Kuntoro itu
gila karena frustasi dan shock. Kami takut Kuntoro akan mengamuk kembali dan
melukai warga lain, sehingga kami semua bersepakat untuk memasungnya di dalam
kandang itu,” Pak Tono bercerita dan diperhatikan oleh Rena dengan seksama.
Mendengar
cerita tersebut Rena tercenung, batinnya tidak terima akan ketidak adilan itu.
Rena seakan telah larut dan benar-benar merasakan perih kesedihan mendalam yang
dialami oleh Kuntoro.
“Jadi
begitu ceritanya Neng.”
“Kasihan
sekali dia,” Rena masih tercenung miris akan peristiwa yang mendera Kuntoro.
“Tapi
beberapa bulan yang lalu Tardi dan Wiryo dipenjara selama 2,5 tahun karena
ketahuan telah mengorupsi dana PNPM desa.”
“Oh
ya, apakah Kuntoro mengetahui kalau mereka berdua sudah dipenjara?” tanya Rena.
“Sepertinya
tidak Neng,” jawab Pak Tardi
Keesokan
harinya setelah pulang sekolah Rena bergegas untuk segera menemui Kuntoro
kembali. Rena mengayunkan langkah kaki penuh semangatnya untuk meyakinkan
Kuntoro bahwa Rena mempercayai bahwa Kuntoro tidak gila dan semua cerita yang
dikatakannya itu benar.
“Woi
tukang marah, apa kabar lo?” Rena berucap dengan sedikit bercanda.
“Ngapain
lagi kamu ke sini?” bentak Kuntoro.
“Sudah
jangaan marah-marah, nanti cepet tua lho. Begini Gue sudah mencari tahu tentang
kenapa Lo dipasung di sini. Dan Gue percaya sama Lo,” kata Rena meyakinkan
dengan senyumnya.
"Benarkah?"
Kuntoro masih berkata dengan nada tinggi yang dibalas Rena dengan anggukan.
Kuntoro terdiam penuh haru dengan perlahan berderaian air matanya, beda dengan
air mata duka yang dikucurkannya setiap hari, tangis kali ini adalah air mata
haru bahagia, karena ini pertama kalinya ada orang yang mempercayainya. Rena pun
ikut terharu dan hampir menitihkan air matanya dan kemudian menyeka air mata
Kuntoro dengan tissue dari balik kandang tempat Kuntoro dikurung.
"Jangan
pegang aku," bentak Kuntoro karena masih belum bisa menahan emosinya yang
memang selalu tidak stabil.
“Sudah
ya nangisnya, Gue ada kabar gembira untuk Lo,” Rena menenangkan Kuntoro
kembali.
“Kabar
gembira apa?” tanya Kuntoro datar.
“Beberapa
bulan yang lalu dua orang yang membunuh adik Lo itu dipenjara selama 2,5 tahun
karena ketahuan mengorupsi dana PNPM desa. Tapi gue merasa nggak terima atas
tindakan keji mereka kepada adik Lo, Gue ingin mencari bukti pembunuhan mereka
agar bisa melaporkan kasus itu dan memenjarakan mereka lebih lama lagi”
“Sudahlah
enggak usah sok-sokan mau mencari bukti, kejadian itu sudah dua tahun lebih,
tidak ada saksi yang melihatnya selain aku dan Tuhan. Percuma tidak ada yang
akan memercayai kasus itu, aku saja belum sepenuhnya mempercayai kalau kamu itu
memercayaiku”
“Gue
beneran percaya kok, tapi kenapa Lo tidak ngedukung Gue, tapi kan...."
“Tidak
usah tapi-tapian, kamu nyari bukti sampai kiamatpun tidak akan bisa, kamu hanya
akan ditertawakan oleh orang-orang karena memercayai orang tak waras sepertiku.
Oh ya, boleh aku minta tolong padamu?”
“Iya,
minta tolong apa?,” tanya Rena.
“Beri
aku selembar kertas dan bolpoin, letakkan bolpoin di tangan kananku dan kertas
di bawahnya,” Rena merogoh isi tasnya dan menuruti apa yang diminta oleh
Kuntoro.
“Terimakasih.
Pulang sana sudah hampir Maghrib! Nanti kamu dicari”
“Baiklah
Kuntoro, Gue pulang dulu. Besok pagi Gue libur. Gue mau ke sini lagi pagi
hari,” Rena pulang dengan tersenyum karena sedikit berhasil menenangkan
Kuntoro.
###
Pagi
sekali Rena segera menemui Kuntoro sudah tidak sabar untuk melihat apa yang
dituliskan Kuntoro dalam kertas itu. Sesampainya di tempat Kuntoro, Rena
mendapati tubuh Kuntoro diam tak bergerak di perpasungannya.
“Kuntoro,
bangun! Bangun!” Rena menggoyang-goyangkan tubuh Kuntoro karena menyangka
Kuntoro masih tisur. Akan tetapi tubuh Kuntoro kaku dan tidak segera memberi
respon yang membuat Rena berteriak panik. Pada saat itu Pak Wasman pun datang
dan kaget ada seorang perempuan muda yang sedang berteriak membangunkan
Kuntoro.
“Itu
Kuntoro kenapa Neng?” tanya Pak Wasman ikut panik.
“Tidak
tahu Pak, saya bangunkan tidak bangun-bangun, tubuhnya dingin dan kaku,” jawab
Rena sambil terus mengguncang tubuh Kuntoro sembari meneteskan air mata.
Pak
Wasman segera membuka gembok kandang dan masuk mengecek kondisi Kuntoro,
memegang denyut nadinya ternyata sudah tidak ada detakan sama sekali. Tubuhnya
kaku, bibirnya pucat membiru.
“Inalillahi
wainnalillahi roji’un, denyut nadinya berhenti, tubuhnya dingin, dia sudah
meninggal Neng,” Pak Wasman menitihkan air mata karena meskipun menganggap
Kuntoro gila, dia tetap kasihan akan nasib Kuntoro. Rena berlari ke arah jasad
kuntoro memeluk tubuhnya yang sedang dilepaskan pasungannya oleh Pak Wasman.
“Kuntoro!
Kuntoro! Kenapa Lo meninggal. Kita kan baru saja berteman kemarin. Padahal kita
belum sempat membuktikan kepada semua warga desa bahwa Lo tidak gila,” Rena
menangis kencang sambil memeluk tubuh lunglai kurus kerontang Kuntoro.
“Di
tangannya ada beberapa bekas gigitan ular berbisa Neng. Dia pasti meninggal
karena gigitan ular berbisa,” ujar Pak Wasman.
Rena
masih saja terus menangis menitihkan rasa duka mendalam akan Kuntoro, teman
barunya. Tiba-tiba Rena melirik ke arah samping tubuh Kuntoro, Rena menemukan
Secarik kertas kosong yang diberikan oleh Rena kemarin. Kertas itu kini telah
penuh bertuliskan kata-kata yang ditulis sendiri oleh Kuntoro. Tulisan dari
hasil tangan dirantai dan dengan menahan pegal pada kaki yang terpasung.
***
Kau
manusia … katanya punya hati, tetapi tega membinatangkanku
Bahkan
binatang pun masih bebas melompat, menari, beterbangan
Tatapan
sinismu, olok-olokan anak-anakmu, ketidakpedulianmu
Binatang
kecil yang merambati tubuhku menatapku dengan cemoohan
Seolah
memang aku lebih rendah dan menyedihkan dari para binatang
Seringkali
kalajengking dan kelabang merambati tubuh ini
Seonggok
raga tak berdaya ini mencoba diam agar tak disengatnya
Tetap
saja tubuh nelangsaku disengat oleh mereka
Beberapa
hari pun tak hilang menahan rasa sakitnya yang tanpa diobati
Bisakah
kalian membayangkannya?
Pernahkah
kau rasa setiap detikmu merasakan sakit pada kaki yang terpasung erat
Menahan
kesemutan yang seperti tidak ada akhirnya
Tangan
terantai yang susah untuk sekedar menggaruk rasa gatal
Ingin
bicara kejujuran tetapi tak ada satupun manusia memepercayai
Aku
tak bisa menahan gejolak amarahku pun derai tangisku yang hampir mengering
Andai
memori otakku bisa diubah menjadi video
Akan
kucongkel otakku demi agar kalian percaya
Masih
sangat terekam jelas memori akan kejadian naas yang menimpa adikku
Setiap
teriakannya, tangisnya, rasa sakitnya, ketidak berdayaannya
Pernahkah
pula kau membayangkan?
Usia
10 tahun kau ditinggal ibumu mati, bapakmu minggat entah kemana
Hanya
ada adik perempuan satu-satunya yang kau punya
Kau
relakan tubuh mudamu untuk menjadi buruh hina di kebun teh
Adikmu
yang lebih belia lagi rela menjadi tukang cuci
Demi
agar bisa tetap makan dan hidup di dunia yang kotor ini
Lalu
tiba-tiba kau mendapati adikmu dinodai dengan keji lalu dibunuh
Kau
menyaksikannya secara gambling dan semua orang tidak mempercayaimu
Lebih
sakitnya lagi pemerkosa dan pembunuh itu yang lebih dipercayai
Hanya
karena derajat mereka tinggi dan terlihat baik
Kudengar
mereka berdua telah dipenjara karena menggerogoti uang desa
Hukuman
2,5 tahun itu sama sekali tak setimpal untuk biadab semacam mereka
Hanya
saja aku telah mengikhlaskannya
Karena
aku sangat yakin hukuman Tuhan itu ada dan lebih setimpal
Satu
yang kupinta jikaa ragaku telah membusuk mati
Aku
harap kalian semua memercayaiku dan ceritaku
Saat
itu aku memukuli orang karena tak mampu menahan emosi akan carut marutnya hidupku
Aku
mohon percayailah aku
Aku
tidak gila!
Aku
tidak gila!
Aku
tidak gila!
***
Rena
membacakan tulisan itu saat pemakaman Kuntoro, dengan suara lembutnya sembari
berlinangan air mata. Setiap kata yang dibacakan Rena sangat penuh emosi
mewakili perasaan yang dirasakan Kuntoro. Pak Lurah dan semua warga yang
mendengarnya menitihkan air mata, menyesali akan ketidakpercayaannya kepada
Kuntoro yang memang sebenarnya adalah anak yang baik. Kini penyesalan tinggal
penyesalan yang tak terlalu berarti. Hanya saja kepercayaan itu pasti telah
menenangkan sukma Kuntoro dan Lilis di surga sana. Sejak saat itu Rena
memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang pengacara dan penggiat sosial
yang bisa melindungi orang-orang yang kurang beruntung seperti Kuntoro-Kuntoro yang
lainnya.
~~
SELESAI ~~
JKT
5 januari 2015
(Pernah dibukukan dalam antologi cerpen bersama bertajuk "Istana Tak Berdinding" yang diterbitkan oleh DIN'S Publishing)

Comments
Post a Comment