Sepasang mata jernih yang bersinar, rupa nan ayu, jemari pun halus
lentik laksana terbungkus sutera, hati putih bagai titisan malaikat
surga. Sayang kau tak bisa berujar kata lewat suara.
Meski olokan kerap menyerang, justru senyummu mengembang. Kau bahkan lebih kokoh dariku--bapak angkatmu--yang sudah terlampau tua usia, emosiku saja tak cukup kuat kala menyaksikan kau tersiksa dunia.
Meski olokan kerap menyerang, justru senyummu mengembang. Kau bahkan lebih kokoh dariku--bapak angkatmu--yang sudah terlampau tua usia, emosiku saja tak cukup kuat kala menyaksikan kau tersiksa dunia.
Hingga penghujung bulan kau tunjukkan prestasimu dalam matematika,
bahkan manusia sempurna pun bisa kaukalahkan. Peluhku lalu menetes
pelan, kupeluk erat, tak kusangka bahkan kau lebih sempurna dari apa
yang aku dan orang lain kira.
Kau yang sewindu lalu kutemukan menangis polos di tepian jalan duka hanya ditutupi bungkus sepotong kain dan selembar daun pisang. Kau adalah mahkota jiwa, anugerah terindah yang tak kuduga
Jakarta, 26/4/15
(Karya: Wahyu Deny Putra)
Kau yang sewindu lalu kutemukan menangis polos di tepian jalan duka hanya ditutupi bungkus sepotong kain dan selembar daun pisang. Kau adalah mahkota jiwa, anugerah terindah yang tak kuduga
Jakarta, 26/4/15
(Karya: Wahyu Deny Putra)
Comments
Post a Comment