Skip to main content

HUJAN HITAM


"Ada apa denganmu Rin? seperti ketakutan."
Rini menengok ke arah suara yang menanyainya itu.
"Ah .. Eng-enggak apa-apa kok Vin," jawab Rindi tersendat. "Aku ha-hanya kedinginan," tambahnya.
"Enggak apa-apa gimana, aku itu tahu kamu. KIta bersahabat itu sudah lama" Vini menatap lekat mata Rindi, melihat ada sesuatu yang disembunyikan. "Yaudah kalau begitu ayo pulang, kan udah nggak ada kuliah," ajak Vini.
"Naaan-nanti masih hujan."
"Ya ampun, ini kan hanya gerimis kecil."
Tiba-tiba Rindi menangis terisak, memeluk Vini--sahabatnya. Vini tidak tahu apa yang terjadi dengan Rindi, yang jelas ia merasakan bahwa Rindi menyembunyikan luka hati yang teramat mendalam
***
'Ini di mana?" pikir seorang gadis kecil berusia 6 tahun, Ia terpisah dengan keluarganya saat di keramaian terminal. Hingga malam, terminal pun sepi. Gadis itu melangkah ke sana kemari dengan gontai dan kepanikan teramat mendalam, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menemukan keluarganya.
Gemuruh angin terdengar, turun rintik-rintik gerimis yang tidak lama kemudian disusul oleh deras rina hujan. Gadis kecil itu berada di emperan toko kecil yang sudah tutup. Suasana teramat gelap.
'Aaahkkkkk ahkkkk,' terdengar sayup suara yang mengisi telinga gadis kecil. Gadis kecil penasaran mencoba mendekati arah suara itu. Terlihat sesosok tubuh tersungkur di bawah rinai hujan dengan penuh lumurandarah, kepalanya hampir putus, tangannya sedikit bergerak. terdengar bisikan lirih dari mulut itu, "si.. si.. siaalaaaan kau hujan."
Kemudian napas itu habis, dan tubuh itu tergolek diam.
Gadis kecil ketakutan. "Pas ... ti yang membunuh orang itu adalah hujan," batin gadis kecil bergidik ketakutan, lalu berlari mencari tempat berteduh, menghindari hujan. Gadis itu ketakutan setengah mati, takut dia yang akan dibunuh selanjutnya oleh hujan.
Pagi harinya ...
"Alhamdulillah Rindi anakku, kamu di sini ternyata," suara seorang Ibu yang berlari mendekati gadis kecil itu, lalu memeluknya. "Alhamdulillah alhirnya kamu ketemu Nak, setelah semalaman kucari."
Gadis itu tanpa ekspresi, masih teringat kejadian yang disaksikan oleh matanya semalam.
***
"Rin, gerimis udah reda, ayo pulang," kata Vini mengajak Rindi yang masih menangis dalam dekapannya.
"Ta--tapi hujan tidak akan turun lagi kan?"
"Tidak tenang saja, lagian aku akan selalu di sampingmu." Kemudian tersungging senyum di keduanya.
Mereka berdua pun bergegas pergi. Tidak jauh dari tempat itu, ada seorang berpakaian serba hitam mengamati mereka berdua dari kejauhan. Di lengannya ada tattoo bertuliskan "Hujan"

(To be continued).

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

Rindu yang Terlupa

'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku' Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer. Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebag...

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...