Skip to main content

PERTIKAIAN BATU




Oleh : Wahyu Deny Putra
Siang itu ….
Sayup terdengar suara gemuruh para anak muda
Dua kubu berhamburan meneriakkan jerit kalimat jahanam
Saling menghina, Saling mencela

Debu-debu pun miris menyaksikannya
Bebatuan mungil tak berdosa berterbangan menjemput lara
Merusak sebagian rumah-rumah yang sebelumnya telah nelangsa
Darah mubazir terpercik tanpa peduli dalam dada
Apakah mereka tak tahu jika semuanya dalam lembah dosa
Berkeroyok menyerang hanya karena alasan sekulit ari saja
Hanya deru amarah yang tak jelas arahnya
Tak kan ada pemenang hanya kesumat buta membara

Tiba-tiba ... satu dari ratusan raga terhantam beberapa senjata
Bruukk ... jatuh pada tanah yang tak sudi diinjaknya
Terdengar suara teriakan sekarat
Satu dari mereka mati dengan kucuran darah yang sia-sia
Waktu tak bisa diulang
Pulang tak lagi membawa nyawa
Hanya menghadirkan isak derai air mata

(Jakarta, 6/1/2015)
(Pernah dibukukan dalam buku antologi puisi bersama berjudul "KIlauan Permata Jiwa" yang diterbitkan oleh DIN'S Publishing)

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

Rindu yang Terlupa

'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku' Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer. Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebag...

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...