Perihal ruang pengap yang kau namai patah hati, aku pernah berlari
kencang menghindarinya. Berkali-kali jatuh terpeleset batu memori dan
terperosok licin angan.Terkapar. Terpelanting. Namun kehendak hati dan
energi otak menguatkan Tetap bangun dan berlari lagi, lagi dan terus.
Hingga akhirnya ia jauh dan tak kelihatan. Suatu hari aku tak sengaja
menemuinya telah mengkristal menjadi seuntai pelajaran.
Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam
Comments
Post a Comment