Skip to main content

Rindu yang Terlupa


'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku'

Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer.

Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebagai pelampiasan amarahku terhadap pekerjaan.

Ranti adalah perempuan manis yang banyak disukai orang di desa dan tempat kerjanya dulu. Tapi dia lebih memilihku yang hanya dikenalnya melalui facebook. itu pun karena berawal dari kecintaannya pada puisi-puisi yang selalu kutulis di beranda.
Kemudian setahun yang lalu aku menikahinya. Dan semenjak saat itu aku sudah tidak pernah membuatkan puisi untuknya. Tak kukira dia menahan rindu pada puisi dan keromantisanku selama itu. Aku pun sebenarnya merindukan hal itu, hanya saja sering terlupa oleh kesibukan yang kerap kali menyita waktu.

Baiklah istriku, aku akan menyelesaikan pekerjaan secepatnya lalu bergegas pulang dan membalas kerinduanmu pada sosokku yang dulu, yang selalu penuh cinta.

Kubalas pesan SMS itu,
'aku pulang cepat hari ini, dan tunggulah awan kan menjemput embun yang telah lama menggantung di daun yang mulai mengering."

***

Kupacu motorku dengan lebih cepat, tak sabar rasanya segera menemuinya. Sesampainya di rumah, tampak dia menungguku di teras dengan senyum manis--seperti biasanya. Bedanya biasanya aku agak cuekin dia, sekarang aku memeluknya.

"Maafkan aku," ucapku lirih di telinganya. Ia mengusap punggungku lalu melepaskan pelukan.

"Mas alhamdulillah aku hamil." Langsung kupeluknya lagi.

Ya Allah terlalu lama aku lalai tak memberikan cinta yang semestinya. Terima kasih telah menganugerahi istri yang sesabar dan secantik Ranti.

---End----

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...