Skip to main content

RUMAH BERATAP HARAPAN



     "Ayah. Kapan kita punya rumah seperti orang-orang?" tanya Arif kepada Rohman--ayahnya. Rohman sedang berjalan membawa gerobak berisi kardus, botol plastik dan barang bekas, Arif berjalan di sebelahnya.

    "Semoga secepatnya." Rohman tersenyum.

    "Aku bosan tidur di gerobak terus, Yah."

     Mereka terus berjalan. Arif berjalan sambil terkadang seperti sedang berkelahi, terkadang bergaya seperti menembaki mobil yang berlalu-lalang di jalan, ia sedang bermain sendiri sambil tetap melangkah mengikuti ayahnya yang sedang berjalan memulung, terkadang juga Rohman menyempatkan diri sebentar menemani Arif bermain. Istri Rohman sudah meninggal lima tahun silam, karena kecelakaan.

***

      Malam sudah bertugas menggantikan siang. Rohman tidur di emperan toko dialasi kardus bekas, Arif tidur di gerobak yang berada di samping ayahnya, dengan berselimut sarung lusuh seadanya.

    "Yah. Rasanya tidur di rumah itu bagaimana?"

     "Sama saja, Nak. Berbaring dan memejamkan mata, lalu bermimpi." Rohman selalu bersabar menjawab pertanyaan Arif.

    "Tapi kan kalau hujan nggak kehujanan, Yah."

     "Kita juga kan kalau hujan nggak kehujanan, kan di emperan toko begini ada atapnya."

     Pertanyaan demi pertanyaan dijawab Rohman dengan tersenyum. Mereka akhirnya tidur, larut dalam mimpinya masing-masing. Bulan sabit memperhatikan mereka berdua dengan lengkung senyum, sinar bintang seperti lampu malam di kamar, sedikit meredup.

***

      Suara azan subuh berkumandang. Kendaraan para pemburu rezeki pagi sudah mulai berlalu-lalang. Rohman dan Arif terbangun. Mereka menuju masjid untuk beribadah, dan seperti biasa berdoa ingin mempunyai rumah.

     "Ayah. Aku semalam mimpi punya rumah. Ada ayah dan ibu juga di rumah itu. Kita bertiga bermain bersama dan terlihat sangat bahagia. Ibu memberi aku cokelat, rasanya enak sekali. Kemudian ayah dan ibu pergi jauh, aku ditinggal sendirian dan menangis lama sekali." Arif menceritakan mimpinya, menemani Rohman memulung, seperti biasa.
Rohman menghentikan gerobak, mengusap rambut Arif.

      "Ibumu sudah bahagia di akhirat sana, Nak. Rumah itu tak menjamin kebahagiaan, kebahagiaan itu ada jika bersama orang-orang yang kita cintai." Rohman memeluk Arif.

      "Aku sayang ayah." Arif menitikkan air mata. Rohman mengusap bahu Arif.

      "Ayah janji tidak akan meninggalkan kamu. Ayah juga sayang Arif. "

      Rohman melepaskan pelukan, berdiri lalu mulai menarik gerobak dan memulung lagi.
"Kita tetap berjuang untuk bisa punya rumah, meskipun hanya rumah kayu. Oke Arif anakku?"

    "Oke, Bos." Arif bergaya seperti tentara hormat kepada komandannya. 

     Mereka melanjutkan kehidupan seperti hari-hari sebelumnya, bersama keikhlasan, doa, dan secuil harapan.

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

Rindu yang Terlupa

'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku' Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer. Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebag...

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...