Malam dengan bulan sabit di langit terlihat manis. Di atas tanaman padi tampak kunang-kunang hinggap dan terbang. Sarmini duduk depan gubuk kayunya, menatap langit, juga kunang-kunang. Ia hidup sebatang kara di sisa usia senja. Ia pernah tiga kali menikah, dan tidak memiliki anak. Kadangkala ia berandai-andai memiliki seorang putri agar bisa merawat sisa hidupnya.
Tetes bening menitik pipi, bersamaan dengan bayangan akan penyesalan-penyesalan. Samar-samar ada suara menangis, Sarmini lalu mengedarkan pandangan mencari ke sumber suara. Matanya dapat menangkap, ada seorang perempuan dewasa berambut panjang, duduk di rerumputan sebelah persawahan, mengenakan pakaian putih, wajahnya menunduk. Itu bukan tangisan hantu, itu manusia, Sarmini yakin sekali.
Sarmini menghampiri.
"Kamu kenapa, Nduk?"
Perempuan itu menghentikan tangis, lalu menoleh. Wajahnya cantik, tapi tubuhnya kotor tak terawat.
"Tidak apa-apa. Aku selalu melakukan ini tiap malam." Perempuan itu mengusap matanya.
"Tiap malam?"
"Iya tiap malam. Sejak tiga puluh enam tahun lalu."
Dahi Sarmini mengernyit.
"Selama itu? Bukankah umurmu terlihat tiga puluh enam? Apakah sejak lahir kamu selalu menangis tiap malam."
"Bukan. Aku bukan dilahirkan, tapi dibuang."
"Dibuang? Maksudnya?"
"Digugurkan."
Sarmini sadar ternyata sedang bicara dengannya bukan manusia. Tapi ia tak takut, justru ingin tahu lebih banyak.
"Kenapa kamu tidak tenang saja di alam sana?"
"Untuk memasuki pintu alam sana aku harus menyebutkan nama. Sementara nama saja tidak punya. Aku pun dikubur, hanya dibuang di kali dengan kantong plastik." Perempuan itu menangis lagi. Sarmini terhenyak, ia ingat kejadian tiga puluh enam tahun lalu.
***
"Lebih baik kamu gugurkan saja janin di perutmu itu."
"Tapi Mas, kau dulu berjanji ingin menikahiku."
"Iya, tapi tidak sekarang. Aku belum selesai kuliah. Lagipula apa kata orang desa kalau tahu anak kepala desa sepertiku menghamili orang, bisa rusak nama bapakku."
Lalu hening, dan tangis mulai deras di mata si perempuan. Si laki-laki matanya merah penuh emosi.
Malam itu juga mereka ke dukun bayi untuk menggugurkan janin di perut si perempuan. Lalu membuang janin itu ke sungai bersama dengan dibuangnya harapan kebahagiaan si perempuan. Langit tampak gelap dan penuh petir, hukannya deras.
***
"Apakah kau dibuang di sungai Tlogosari?"
Perempuan itu mengangguk. Ia sudah tak menangis, tapi kini Sarmini yang menangis. Cukup lama, hingga ia bisa mengendalikan tangisnya.
"Kau bilang kau tak punya nama?"
Perempuan itu mengangguk.
"Kalau begitu bagaimana kalau kamu kuberi nama Kinasih?"
Perempuan itu tersenyum, mengangguk. Sarmini memeluknya.
"Kamu mau tinggal denganku di gubuk itu? Menemaniku menghabiskan usia, Kinasih?"
***
"Orang gila ... Orang gila." Teriakan para bocah jika melihat Sarmini, janda tua yang hidup menyendiri.
"Lihat tuh? Benar kan? Dia selalu berbicara sendiri," ucap salah satu bocah.
Sarmini bukan tak mendengarnya, ia hanya memilih untuk tak peduli. Ia terus berjalan melewati bocah-bocah sambil tetap berbicara dengan Kinasih.

Comments
Post a Comment