Skip to main content

HEI . . . BOCAH

 

  Ada sebuah tempat duduk besi kusam di samping trotoar. Bangku ini jarang diduduki orang. Beberapa sudah dihiasi lumut. Di depannya ada suasana lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki. Polusi asapnya tak menghentikanku tetap mencintai tempat ini. Tempat pelarian jika otak dan perasaan merasa lelah. Aku bahkan bisa menghabiskan ratusan ribu detik untuk terpaku duduk di sini. Sambil mengunyah beberapa potong roti, setelah itu kekalutanku sirna terbawa angin.

        Siang tadi banyak amarah yang meluap di tempat kerja, jadi bangku besi itu sudah pasti akan kusinggahi malam nanti. Sudah kubeli beberapa bungkus roti tadi sebagai amunisi, roti isi srikaya, blueberry, kelapa, nanas, hampir semua rasa kecuali cokelat. Ya, aku membenci cokelat, sangat-sangat tidak suka, sampai kapan pun.

      Aku duduk, memakan roti ditemani kopi kemasan, menatap kosong.

       Plettaaakkkk!!!
Sebuah kerikil mengenai dahiku. Aku terhenyak berdiri, menatap ke arah asal kerikil.

       "Hei bocah ... Berani sekali kau. "
Bocah laki-laki berpakaian setelan jas hitam dan berkacamata bening itu hanya tertawa, tidak takut dengan gertakanku.

       "Belum pernah tahu rasanya bogem mentah kau bocah? Pulang sana, nanti dicari ibumu!" Aku membentak sekali lagi.

      "Huu takuuut. Bisa babak belur aku kalau dikasih bogem mentah oleh orang patah hati sepertimu?" jawabnya dengan ekspresi pura-pura takut. Bocah itu tersenyum meledek. Sialan.

       Bocah itu mengacungkan telunjuknya ke arahku, ada sinar yang keluar dari jemarinya dengan kecepatan cahaya menyambar mataku. Tubuhku terhentak sekejap seperti terkena sengatan listrik. Tiba-tiba sekelebat bayangan masa lalu muncul di otakku dengan sangat jelas, seperti video.


      "Lorytaaaaaa. Jangan tinggalin aku Loryta. Please ... Kamu harus kuat, Sayang. " Aku ikut mendorong ambulance stretcher bersama para perawat dan dokter. Air mataku menetesi lantai yang dilewati. Hingga di depan ruang IGD, tubuh tak berdaya Loryta dibawa masuk, aku disuruh menunggu di luar. Tetapi jiwaku ikut masuk, masuk dalam rasa kesakitan yang dialaminya.

      Tubuhku bergetar kembali, bayangan itu sirna dan bocah itu sudah duduk di sebelahku.

      "Tora, kau tak hanya kehilangan. Aku tahu. Kau bahkan sampai membenci Cokelat." Bocah itu selalu berucap dengan nada seolah dia adalah orang dewasa. Bocah itu juga tahu namaku.

       "Kau siapa? Bagaimana kau bisa menghadirkan bayangan senyata tadi? Bagaimana kau tahu semua tentangku? " tanyaku penasaran. Ribuan tanda tanya menjamur di kepalaku.

    "I know you, Tora. All of you. Aku mewakili jiwa mati yang belum merasa tenang. Saat ini aku sedang mewakili perasaan Loryta, aku akan menyampaikan kepadamu apa yang mengganjal di hatinya agar jiwanya bisa tenang ke langit."

      Air mataku hampir menetes. Loryta adalah cinta pertama sekaligus yang ingin kujadikan sebagai pelabuhan terakhir. Aku pun tahu dia sangat mencintaiku. Tapi kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum meninggal adalah 'aku tidak mencintai Tora'. Benar kata bocah itu, aku tak hanya kehilangan, aku juga patah hati tak berkesudahan.

       "Apa maunya? Kenapa tak dia saja yang menemuiku? "

      "Dia sudah mati, jadi tidak bisa memunculkan dirinya dan suaranya kepada orang yang masih hidup. Hanya bisa disampaikan melalui aku sebagai makhluk perantara."

        "Aku tak bisa berhenti mencintainya, tetapi hatiku juga tak bisa berhenti merasa patah hati terhadapnya. Tanyakan pada Loryta, aku harus bagaimana? " Mataku terpejam, air mata melintasi pipi, turun menetes ke tanah.

        "Alasan dia mengatakan kalimat itu adalah agar kamu bisa membencinya dan dengan mudah melupakannya. Tapi itu sangat ceroboh, kenyataannya kamu justru makin sulit melupakan. Itu yang membuat jiwanya masih belum tenang." Dia menghela nafas, lalu berucap kembali, "dia sangat mencintaimu, itu alasan kenapa dia mengatakan kalimat terakhir itu. "

        "Menurutmu aku harus bagaimana? Apakah aku harus mati untuk menjemputnya atau harus tetap hidup dan mencintainya sampai mati dengan keadaan hati yang seperti ini?"

        "Hei jangan tanyakan aku. Terus terang saja kesalahpahaman di antara kalian adalah hal terkonyol yang pernah kulihat. Yang jelas Loryta tidak ingin kamu mati, ia ingin kamu tetap hidup dan mendapatkan cinta baru. Dia juga menitipkan sesuatu untukmu. Tutup matalah, Tora."

        Aku menutup mata lalu tubuhku seperti tersengat listrik. Aku membuka mata, kudapati tubuh ini tengah terkapar di rerumputan di samping bangku. Dan di atas bangku kulihat ada sebuah kotak putih berisi cokelat berbentuk huruf L.O.V.E. , di atasnya ada selembar kertas dengan doodle art bertuliskan 'Dear Tora'. Persis seperti hadiah yang Loryta berikan padaku di hari ulang tahunku dulu.


Ternyata aku salah paham padamu, Loryta. Akan kucoba menghapus kembali kebencianku terhadap cokelat. Seperti yang kulakukan dulu. Tenanglah kau di sana. Asal kau tahu, aku tidak bisa melupakanmu. Akan kucoba menemukan hidup baru seperti yang kau pinta, tapi tetap ada dirimu kusimpan dalam saku kenangan paling indah.

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

Rindu yang Terlupa

'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku' Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer. Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebag...

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...