"Adakah dongeng dari mendiang kakek Agio yang belum pernah kudengar Nan?"
"Sebentar. Kuingat dulu, Anna." Nan memejamkan mata sembari menusukkan telunjuk ke dahi kanan. Anna tertawa melihat tingkahnya.
"Ada kan?" Anna tak sabar.
"Kisah Selene dan Endymion." Nan membuka mata.
"Oke ceritakan."
"Selene adalah seorang dewi bulan. Parasnya cantik, kulitnya sangat putih bahkan lebih putih dari gaun putih yang dikenakannya. Makin mempesona dengan mahkota berbentuk bulan sabit di rambutnya."
"Aku dapat melihat dia ada di relief bulan malam ini. Lihatlah." Anna menunjuk ke bulan, Nan lalu melihatnya. "baiklah, lanjutkan ceritanya Nan."
"Suatu hari ia jatuh cinta dengan seorang manusia, seorang raja yang gemar berburu, namanya Endymion. Endymion membalas cinta Selene yang jelita itu tentinya."
"Kemudian mereka menikah lalu bahagia selamanya?"
"Hei jangan sok tahu."
"Hehe maaf."
"Mereka menikah lalu mempunyai lima puluh anak."
"Wow banyak sekali."
"Anna ... diam dulu." Anna menutup mulut dengan tangannya sendiri.
"Endymion semakin menua, sementara Selene seorang dewi, ia selalu muda dan hidup abadi. Suatu hari Selene meminta pada Zeus untuk keabadian Endymion kekasihnya. Zeus yang sebenarnya menyimpan cemburu enggan melakukannya, tapi Selene terus memaksa. Zeus akhirnya memberikan keabadian kepada Endymion tapi dalam keadaan tertidur untuk selamanya. Kau tahu? Jika rembulan redup berarti Selene merasa sedih akan kekasihnya, Jika bulan sabit berarti Selene mencoba tersenyum dengan apa yang dialaminya."
"Jika bulan purnama seperti malam ini?"
"Berarti Selene sedang mengenang masa bahagia dengan Endymion, dan menciumnya."
"Andai saja aku dapat naik ke bulan untuk melihat mereka berdua."
Angin malam bertiup lebih kencang, tba-tiba ada sekumpulan bintang yang saling bersentuhan membentuk seperti rantai, ujung atas terhubung bulan, ujung bawahnya mendekati tanah. Sepertinya Selene mendengar harapan Anna yang ingin menemuinya ke bulan. Anna dan Nan terkejut sekaligus gembira. Anna meraih bintang itu, lalu berusaha memanjat. Ternyata sangat licin, baru beberapa panjatan Anna sudah tergelincir jatuh. Sinar terang berkilat, kemudian bintangnya terbang berpencar lagi. Kembali ke posisi rasi masing-masing.
"Nampaknya Selene hanya meledek kita, Anna. " Nan menahan tawa. Anna bersungut kesal. Malam makin larut, mereka lalu pulang.
****
Cerpen ini terinspirasi dari Selene di mitologi Yunani

Comments
Post a Comment