Skip to main content

HARI BARU



Badanku rasanya sakit sekali, seperti habis kejatuhan berkarung-karung beras. Kubuka sedikit demi sedikit mata. Pandangan masih gelap, samar, lalu beberapa detik kemudian mulai beradaptasi dengan penglihatan. Aku di atas rerumputan, dan banyak pohon di sekitar. Tempat ini gelap, hanya sedikit cahaya rembulan yang berhasil menelisik, membantuku untuk sedikit bisa melihat bahwa aku berada di hutan yang sangat sepi.

Ya ... aku ingat sekarang. Terakhir kali sadar, aku masih dikerumuni oleh Rendy dan beberapa preman suruhannya. Rendy tak suka kalau Widya dekat denganku. Dia menyuruhku menjauh, tapi orang keras kepala sepertiku mana mau. Dan bisa ditebak, aku habis dikeroyok oleh mereka hingga akhirnya sekarang aku terbangun di tempat semenyedihkan ini. Aku berharap tempat gelap ini hanya mimpi dan waktu terbangun aku sudah mendapatkan cinta Widya lalu orang tua Widya tak meremehkanku, begitu pula Rendi tak menggangguku lagi. Ah Widya, betapa aku sangat mengharapkanu.

Tiba-tiba pandanganku gelap lagi, padahal perasaan tadi cahaya rembulan cukup untuk membantu penglihatan. Dadaku juga terasa sesak. Bulu kuduk berdiri, merinding. Mulut ini hendak berteriak, tetapi lidah kelu, tak bisa bersuara. What the hell, suasana macam apa ini.

"Dengarlah Tito. Widya itu cantik, seksi, pintar, baik kepadamu. Kurang apa lagi dia? Kau masih berpikir tentang dikeroyok? Diremehkan orang tuanya? Itu hal biasa dialami laki-laki haha. Itu namanya berjuang dan wanita sesempurna dia layak diperjuangkan." Suara serak terdengar keras di telinga. Terdengar cukup mengerikan. Tapi aku bisa apa, tidak bisa merespon. Mengapa dia tahu namaku? Juga tahu tentang Widya. Ah apa-apaan ini.

"Memang Widya itu cantik, seksi, pintar dan baik padamu, Tito. Tetapi jika tidak membawa kebaikan di hidupmu, masih pantaskah dia untuk diperjuangkan? Dia memang merespon baik dirimu tetapi juga tak pernah menolak jika diajak jalan oleh Rendi kan? Kau juga tahu kan apa kegemarannya? Shopping, ke salon, ke diskotik. Apakah kau yakin tetap memperjuangkan dia?" Ada suara lain menyahut, nadanya lembut dan santun.

"Tak usah dengarkan dia, Tito! Masalah shopping, ke salon, ke diskotik itu manusiawi dan hanya untuk penghilang stress. Kalau kau tak kuat membiayai tidak apa-apa, bapaknya dia kan kaya raya. Bahkan jika kau menjadi menantunya pasti kau akan dipercaya untuk menjalankan salah satu perusahaannya. Saat ini mungkin dia belum menyukaimu, tetapi lama kelamaan pasti akan luluh seiring perjuanganmu. Kau tahu pepatah ini kan? Hasil itu takkan mengingkari proses. Dan prosesnya itu ya perjuanganmu. Hidupmu pasti akan sangat bahagia. Percaya padaku."
Si Suara Serak tak mau kalah. Hmm ... ada benarnya juga apa yang dia katakan.

"Kebahagiaan tak hanya diukur dari materi saja. Justru kamu akan direndahkan apabila mempunyai harta tapi karena belas kasihan mertua yang kaya. Ingat juga, perempuan di dunia ini tak hanya satu, masih banyak yang lainnya. Dijah, Lely, Biah, tiga perempuan itu sangat menyukaimu kan? Mereka baik, sederhana dan manis. Kamu bisa saja pilih salah satu dari mereka. Kamu mungkin bisa sukses jika didampingi salah satu dari mereka, mereka terlihat tipe yang sederhana dan setia menemani membangun karirmu dari titik terendah. Kamu pun kulihat sekarang jarang beribadah lagi semenjak tergila-gila pada Widya. Apa itu namanya wanita yang harus diperjuangkan? Sekali lagi aku minta kamu pikirkan kembali dengan bijak." Suara Si Lembut juga ada benarnya. Ah masa bodo, buat apa mereka mencampuri urusanku.

"Sialan kau. Semua yang kau ucapkan itu terlalu omong kosong." Si Serak membentak.

"Aku hanya berbicara kebenaran." Si suara Lembut tetap bernada tenang.

"Kurang ajar." Si Serak penuh amarah.

Dan tiba-tiba ada suara seperti orang beradu pedang dan teriakan dari kedua suara misterius itu. Sesekali ada suara petir. Lalu ada seperti suara badai besar. Suara Serak berteriak merintih kesakitan kemudian suaranya hilang dan tetganti oleh suara angin yang sangat kencang. Tubuhku lalu terbang terpelanting semacam terbawa angin yang berpusar, sangat cepat.

***

Aku terbangun. Menyentuh pipiku yang barusan seperti kejatuhan sesuatu, kupegang, ternyata sangat lembek dan bau. Sialan ... itu kotoran burung. Mataku tak terlalu kuat untuk terbuka lebar, karena mataharinya sangat silau. Sudah pagi ternyata. Aku pun ingat bahwa telah mengalami banyak hal aneh setelah pingsan dikeroyok preman suruhan Rendy semalam.

Dan aneh. Tak tahu apa yang terjadi pada hati dan pikiran ini, aku seperti tak lagi memikirkan Widya dan sadar bahwa dia tidak baik untuk kehidupanku. Rasanya bersemangat sekali untuk bekerja meniti karir, daripada terhanyut memikirkan wanita. Hati ini pun terasa sangat merindukan masjid yang sudah jarang kusinggahi lagi. Oh Tuhan. Tuntun aku untuk lebih baik lagi. Kini harapanku hanya satu, bisa lebih dekat dengan-Mu dan membahagiakan orang-orang yang menyayangiku. Terima kasih untuk menyadarkan hamba-Mu ini.


***
(Jakarta, 11-1-2017)

Comments

Popular posts from this blog

SAJAK INSOMNIA

Lelah terengah-engah merasuk sejak siang Aroma angin menjelma nyanyian malam Cahaya-cahaya semesta perlahan redup Tapi kantuk ini tak jua menemukan jawabnya Sudah selayaknya aku mengeluh bosan, hanya saja mata ini lalai enggan terpejam

Rindu yang Terlupa

'Mas ... aku rindu saat kita merasa muda, berbalas puisi di ruang maya seperti dulu, di mana aku memanggilmu awan dan kau memanggilku embun. Kini kau telah berbeda, tak lagi menjadi awan yang teduhkanku. Rumah yang kita bangun bersama hanya sebagai untuk tempatmu tidur di malam hari, dan kata-katamu sekarang hanya untuk melampiaskan amarah padaku' Sebuah pesan singkat berasal dari Ranti--istriku, masuk ke ponselku, yang seketika membuat titik bening di mataku mengalir turun tak berarah. Ada beberapa tetes yang sempat jatuh mengenai keyboard komputer. Ya begitulah semenjak sebulan lalu, jabatanku di kantor naik menjadi seorang supervisor marketing, dan baru kusadari dari pesan itu bahwa karena tanggung jawab kerjaku bertambah, aku sering pulang malam karena lembur. Otakku selalu stress tentang pekerjaan. Sebulan terakhir aku dan istriku jarang berkomunikasi karena setiap pulang kerja aku langsung tidur, sekali dua kali berkomunikasi karena aku memarahinya sebag...

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...