"Ayah. Kapan kita punya rumah seperti orang-orang?" tanya Arif kepada Rohman--ayahnya. Rohman sedang berjalan membawa gerobak berisi kardus, botol plastik dan barang bekas, Arif berjalan di sebelahnya. "Semoga secepatnya." Rohman tersenyum. "Aku bosan tidur di gerobak terus, Yah." Mereka terus berjalan. Arif berjalan sambil terkadang seperti sedang berkelahi, terkadang bergaya seperti menembaki mobil yang berlalu-lalang di jalan, ia sedang bermain sendiri sambil tetap melangkah mengikuti ayahnya yang sedang berjalan memulung, terkadang juga Rohman menyempatkan diri sebentar menemani Arif bermain. Istri Rohman sudah meninggal lima tahun silam, karena kecelakaan. *** Malam sudah bertugas menggantikan siang. Rohman tidur di emperan toko dialasi kardus bekas, Arif tidur di gerobak yang berada di samping ayahnya, dengan berselimut sarung lusuh seadanya. "Yah. ...
Badanku rasanya sakit sekali, seperti habis kejatuhan berkarung-karung beras. Kubuka sedikit demi sedikit mata. Pandangan masih gelap, samar, lalu beberapa detik kemudian mulai beradaptasi dengan penglihatan. Aku di atas rerumputan, dan banyak pohon di sekitar. Tempat ini gelap, hanya sedikit cahaya rembulan yang berhasil menelisik, membantuku untuk sedikit bisa melihat bahwa aku berada di hutan yang sangat sepi. Ya ... aku ingat sekarang. Terakhir kali sadar, aku masih dikerumuni oleh Rendy dan beberapa preman suruhannya. Rendy tak suka kalau Widya dekat denganku. Dia menyuruhku menjauh, tapi orang keras kepala sepertiku mana mau. Dan bisa ditebak, aku habis dikeroyok oleh mereka hingga akhirnya sekarang aku terbangun di tempat semenyedihkan ini. Aku berharap tempat gelap ini hanya mimpi dan waktu terbangun aku sudah mendapatkan cinta Widya lalu orang tua Widya tak meremehkanku, begitu pula Rendi tak menggangguku lagi. Ah Widya, betapa aku sangat mengharapkanu. Tiba-tib...