Skip to main content

Posts

RUMAH BERATAP HARAPAN

     "Ayah. Kapan kita punya rumah seperti orang-orang?" tanya Arif kepada Rohman--ayahnya. Rohman sedang berjalan membawa gerobak berisi kardus, botol plastik dan barang bekas, Arif berjalan di sebelahnya.     "Semoga secepatnya." Rohman tersenyum.     "Aku bosan tidur di gerobak terus, Yah."      Mereka terus berjalan. Arif berjalan sambil terkadang seperti sedang berkelahi, terkadang bergaya seperti menembaki mobil yang berlalu-lalang di jalan, ia sedang bermain sendiri sambil tetap melangkah mengikuti ayahnya yang sedang berjalan memulung, terkadang juga Rohman menyempatkan diri sebentar menemani Arif bermain. Istri Rohman sudah meninggal lima tahun silam, karena kecelakaan. ***       Malam sudah bertugas menggantikan siang. Rohman tidur di emperan toko dialasi kardus bekas, Arif tidur di gerobak yang berada di samping ayahnya, dengan berselimut sarung lusuh seadanya.     "Yah. ...
Recent posts

HARI BARU

Badanku rasanya sakit sekali, seperti habis kejatuhan berkarung-karung beras. Kubuka sedikit demi sedikit mata. Pandangan masih gelap, samar, lalu beberapa detik kemudian mulai beradaptasi dengan penglihatan. Aku di atas rerumputan, dan banyak pohon di sekitar. Tempat ini gelap, hanya sedikit cahaya rembulan yang berhasil menelisik, membantuku untuk sedikit bisa melihat bahwa aku berada di hutan yang sangat sepi. Ya ... aku ingat sekarang. Terakhir kali sadar, aku masih dikerumuni oleh Rendy dan beberapa preman suruhannya. Rendy tak suka kalau Widya dekat denganku. Dia menyuruhku menjauh, tapi orang keras kepala sepertiku mana mau. Dan bisa ditebak, aku habis dikeroyok oleh mereka hingga akhirnya sekarang aku terbangun di tempat semenyedihkan ini. Aku berharap tempat gelap ini hanya mimpi dan waktu terbangun aku sudah mendapatkan cinta Widya lalu orang tua Widya tak meremehkanku, begitu pula Rendi tak menggangguku lagi. Ah Widya, betapa aku sangat mengharapkanu. Tiba-tib...

HEI . . . BOCAH

    Ada sebuah tempat duduk besi kusam di samping trotoar. Bangku ini jarang diduduki orang. Beberapa sudah dihiasi lumut. Di depannya ada suasana lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki. Polusi asapnya tak menghentikanku tetap mencintai tempat ini. Tempat pelarian jika otak dan perasaan merasa lelah. Aku bahkan bisa menghabiskan ratusan ribu detik untuk terpaku duduk di sini. Sambil mengunyah beberapa potong roti, setelah itu kekalutanku sirna terbawa angin.         Siang tadi banyak amarah yang meluap di tempat kerja, jadi bangku besi itu sudah pasti akan kusinggahi malam nanti. Sudah kubeli beberapa bungkus roti tadi sebagai amunisi, roti isi srikaya,  blueberry , kelapa, nanas, hampir semua rasa kecuali cokelat. Ya, aku membenci cokelat, sangat-sangat tidak suka, sampai kapan pun.       Aku duduk, memakan roti ditemani kopi kemasan, menatap kosong.        Plettaaakkkk!!! Sebuah kerikil mengena...

PEREMPUAN GILA

       Malam dengan bulan sabit di langit terlihat manis. Di atas tanaman padi tampak kunang-kunang hinggap dan terbang. Sarmini duduk depan gubuk kayunya, menatap langit, juga kunang-kunang. Ia hidup sebatang kara di sisa usia senja. Ia pernah tiga kali menikah, dan tidak memiliki anak. Kadangkala ia berandai-andai memiliki seorang putri agar bisa merawat sisa hidupnya.      Tetes bening menitik pipi, bersamaan dengan bayangan akan penyesalan-penyesalan. Samar-samar ada suara menangis, Sarmini lalu mengedarkan pandangan mencari ke sumber suara. Matanya dapat menangkap, ada seorang perempuan dewasa berambut panjang, duduk di rerumputan sebelah persawahan, mengenakan pakaian putih, wajahnya menunduk. Itu bukan tangisan hantu, itu manusia, Sarmini yakin sekali.        Sarmini menghampiri. "Kamu kenapa, Nduk?" Perempuan itu menghentikan tangis, lalu menoleh. Wajahnya cantik, tapi tubuhnya kotor tak terawat. "Tidak apa-apa...

PURNAMA SELENE

     "Adakah dongeng dari mendiang kakek Agio yang belum pernah kudengar Nan?"      "Sebentar. Kuingat dulu, Anna." Nan memejamkan mata sembari menusukkan telunjuk ke dahi kanan. Anna tertawa melihat tingkahnya.       "Ada kan?" Anna tak sabar.       "Kisah Selene dan Endymion." Nan membuka mata.      "Oke ceritakan."          "Selene adalah seorang dewi bulan. Parasnya cantik, kulitnya sangat putih bahkan lebih putih dari gaun putih yang dikenakannya. Makin mempesona dengan mahkota berbentuk bulan sabit di rambutnya."         "Aku dapat melihat dia ada di relief bulan malam ini. Lihatlah." Anna menunjuk ke bulan, Nan lalu melihatnya. "baiklah, lanjutkan ceritanya Nan."       "Suatu hari ia jatuh cinta dengan seorang manusia, seorang raja yang gemar berburu, namanya Endymion. Endymion membalas cinta Selene yang jelita itu tentinya." ...

SECANGKIR TEH

Pandanganku tertuju pada istana terbuat dari emas, tapi aneh sekali istananya hanya atap dan tiang penyangga tanpa ada dindingnya. Dengan indahnya panorama taman yang terhiasi pesona warna dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh subur dan rapi. Aku berjalan mendekat. Lalu kulihat ada   wanita yang mengenakan sebuah gaun putih dan berambut pendek berwarna hitam berkilau. Dia sedang duduk di bangku putih yang terletak di taman, tepatnya di samping air mancur. Aku penasaran, mencoba menghampirinya agar dapat melihat dengan jelas wajahnya. Aku melangkah perlahan dan sudah sampai jarak hanya lima langkah dari cewek itu. Dia menoleh ke arahku. Senyumnya sangat manis, dan dia menatapku dengan tatapan indah yang tidak bisa kuterjemahkan makna dari tatapan mata indahnya itu. Kurasakan hatiku bergetar indah dan mengalun syahdu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Hingga kuberanikan diri untuk menyapa. “Hai … boleh berkenalan denganmu?” tanyaku dengan tersendat-sendat dan sediki...

AKU TIDAK GILA

  Kuntoro masih terduduk lunglai menyedihkan dalam kaki yang terpasung kayu kokoh dan ditempatkan pada gubuk bambu kecil reot yang dulunya bekas kandang kambing. Sungguh sama sekali tak pantas untuk disemayami manusia manapun. Malam hari Kuntoro hanya ditemani oleh sadisnya angin malam yang menusuk ke kulit hingga tulangnya dan suara binatang malam yang terkadang merayap di tubuh tak berdayanya. Siang harinya hanya terdengar teriakan olok-olok anak kecil dan senyum sinis seakan jijik dari orang yang melewatinya. Apalagi sudah dua tahun lebih Kuntoro terpasung dalam bekas kandang itu. Setiap hari dia memakan makanan yang diberi oleh Pak Wasman, seorang lelaki tua miskin yang masih peduli padanya walaupun itu adalah nasi dan lauk sisa. Setiap pagi buta Pak Wasman selalu melepaskan pasungan Kuntoro untuk mengantarnya ke kali sejenak untuk buang air, mandi ataupun membasuh muka, kemudian langsung mengembalikan ke kandang dan memasungnya kembali. Jika sedang tak mampu me...